• 23

    Apr

    Berpotong-potong Kenang di Makalehi

    Ini adalah tulisan pertama Grup 14 dari Cerita Berantai bertagar #3Penguasa yang digelar oleh Blogor (komunitas blogger Bogor). Tulisan kedua akan dibuat @ErfanoNalakiano, sedangkan yang ketiga oleh@celotehsaya. BERPOTONG-POTONG KENANG DI MAKALEHI Oleh Khrisna Pabichara [1] Lelaki-lelaki bermata beringas itu merubuhkan pagar, mendobrak pintu, dan melantingkan palang besi atau balok panjang di segala benda yang ada. Ayahku mengerut di pintu kamar tidurnya yang hancur berantakan. Ibuku gemetaran di sisinya, rok satinnya basah. Aku yakin ibuku sangat ketakutan. Aku berdiri, nanar, tak tahu apa yang mesti kulakukan. Tak ada lagi waktu untuk melarikan diri. Sia-sia juga berteriak meminta pertolongan, bahkan kepada Tuhan sekalipun. Boleh jadi, pada saat sebalau ini, Tuhan sedang ripuh men
  • 28

    Nov

    Hujan, Tuhan, dan Gumam-gumam Tak Beraturan

    1. Hujan yang kaurindukan adalah keheningan yang kutakutkan. Padanya, duka seringkali mengeram lebih lama. Hanya hujan, yang tumpah sesekali, mempertemukan aku dengan bayangmu, di senyap ingatan. Di luar, hujan mulai reda. Di hatiku, rindu menggerimis. 2. Aku menyukai rindu, karena ia bisa kapan saja, melesapkan kamu ke jantung anganku. Seperti burung, rinduku tak pernah murung, selalu tahu cara berbahagia, setiap senja tiba. Seperti dugaanmu, rindu adalah gerimis yang melebat tiba-tiba, sebelum akhirnya ia pulas di pipiku. Rinduku linang sepi, benciku lengang pinta. Tumbuh-tegang di hatiku, sama-sama menginginkan kehadiranmu. Sungguh, aku memilih rindu,padanya luka dan cinta menyatu. 3. Kita sepakat meninggalkan masa silam, tapi kita suka diam-diam mengunjunginya. Lewat hujan, lew
  • 20

    Nov

    Jujur atau Bohong Itu Bermula di Rumah

    SUATU ketika, seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran, berpesan kepada kita, Anak kita bukanlah milik kita, melainkan milik kehidupan. Petuah ini layak jadi landasan bagi setiap orangtua dalam mendidik anaknya. Orangtua seyogianya memahami bahwa setiap anak dilahirkan bersama hak paling asasi; kemerdekaan. Kewenangan orangtua adalah mengarahkan agar hak paling asasi itu berjalan di atas rel kemanusiaan. Pada hakikatnya, setiap anak bukanlah jajahan ayahnya atau koloni ibunya. Hanya saja, kemerdekaan itu masih harus bergantung pada kasih sayang orangtua, terutama di masa kanak. Jika kasih sayang orangtua itu ikhlas tanpa berharap apa-apa, nilai-nilai kemerdekaan sang anak tidak akan tercemari oleh rasa ketergantungan. Di balik kemerdekaan itu terdapat batasan yang harus diindahkan. Batasan
  • 16

    Nov

    Perempuan dari Masa Lalu

    Kisah imajinatif ini adalah bagian ketiga dari #RantaiCerita bertopik #Crot. Sebelum saya, @wkf2010 sudah memulai kisah ini di http://wongkamfung.boogoor.com/mendadak-crot.html dan @AbahZoer menulis bagian keduanya di http://abahzoer.blogdetik.com/2011/11/14/mendadak-crot-2/ Setelah saya, tulisan ini akan diteruskan oleh @erfanonalakiano, @rudigints, dan @mataharitimoer. Saya pikir, ada baiknya Anda baca dulu tautan di atas, lalu membaca tulisan ini. Saya didaulat menjadi penulis ketiga. Pada mulanya, saya ingin menolak. Saya memang lebih suka menjadi penulis pertama agar leluasa menentukan sendiri alur, tokoh, dan latar cerita. Saya juga cenderung memilih sebagai penulis terakhir supaya saya berkuasa penuh menutup kisah. Tapi, ini tantangan! Perempuan dari Masa Lalu Khrisna Pabichara
  • 13

    Nov

    Garuda Muda: Keberuntungan atau Diuntungkan?

    Tentulah kita tidak ingin kemenangan melawan Singapura dan Thailand dihiasi oleh komentar miring yang miris, semisal, Ah, itu karena faktor keberuntungan saja, ada campur tangan Dewi Fortuna. Ya, bagi saya, apa pun hasil pertandingannya, kegigihan pemain memberikan segala kemampuan yang dimilikinya adalah hadiah yang indah. O, ya, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lema untung dilengkapi dengan kata beruntung, keberuntungan, dan keuntungan. Beruntung, dalam kaitannya dengan perjalanan Garuda Muda, bisa dimaknai bernasib baik atau berhasil meraup angka dalam tiga partai awal. Kenapa beruntung? Ingat, Garuda Muda berada di grup neraka. Jadi, kemenangan demi kemenangan laksana oase yang memuaskan dahaga kita setelah sekian lama diterjang kemarau gelar. Adapun keberuntungan adalah
  • 12

    Nov

    [Puisi] Seseorang Bernama Cinta

    Semua orang pernah terjatuh, tapi tak banyak yang mau mempelajari mengapa mereka bisa terjatuh. 19 September 2011, 19.27 (1) Pertemuan tak terduga. Secara tidak sengaja aku bertemu denganmu, Cinta. Waktu itu, di sebuah ruang lapangyang kita namai masa lalukamu baru saja menyeka air mata yang mengalir di pipimu. Seperti orang berduka, tergesa-gesa menyembunyikan kesedihan di matanya. Tetapi, matamu tak terlalu pandai bersandiwara. Setelah itu, kamu bercerita tentang kasih tak sampai. Bukan kisah-kusut yang selama ini hanya aku temukan di dalam roman-roman pujangga lama. Ini kisah nyata, kisah yang benar-benar kamu alami. Katamu, adat memaksa kamu mengubur harapan dan keinginan untuk menikah dengan lelaki yang kamu dambakan. Waktu itu, aku merasa sudah sangat mengenalmu. Kita seolah sud
  • 12

    Nov

    Pecat Wim, Putar Kompetisi

    Sepanjang sejarah persepakbolaan, pemecatan pelatih bukanlah sesuatu yang tabu. Sah-sah saja. Bahkan, sebenarnya, rezim Djohar AH termasuk berani ketika memutuskankontrak Alfred Riedlsecara sepihak. Alasannya pun, dulu, sangat mengada-ada. Konon, kontrak Riedl tidak sah karena bersifat personal, bukan kelembagaan. Meskipun, menurut dugaan saya, ini gagah-gagahan pengurus baru saja. Tapi, itu dulu. Sekarang Djohar AH seolah kehilangan nyali. Pelatih yang piawai menggerutu dan selalu menimpakan seluruh kesalahan kepada pemain, malah terus dipertahankan. Padahal, timnas senior kita sudah menderita empat kekalahan.Mimpi berlaga pada Piala Dunia 2012 di Brasil sudah pupus. Mustahil tercapai. Bahkan, memenangkan dua laga sisa pundengan catatan kondisi timnas kita tetap seperti sekarangmenjadi &
  • 12

    Nov

    Komentator Sepak Bola dan Bahasa Indonesia

    Kalau dipikir-pikir, prestasi sepak bola kita makin mengenaskan. Lebih tepatnya, menyesakkan dada. Betapa tidak, dalam lingkup regional saja, sudah lama kita menderita tunagelar. Dulu, kita pernah digelari macan Asia. Kini, Vietnan dan Myanmar pun tak lagi gentar menghadapi tim nasional kita. Tetapi, maaf, tulisan ini tidak akan membabar bagaimana dan mengapa prestasi sepak bola kita menukik tajam. Biarlah hal itu diurus oleh pakarnya. Cukuplah saya sebagai penggila bola saja. Tulisan ini cuma pantulan kerisauan dan keprihatinan saya atas nasib bahasa Indonesia. Seperti prestasi sepak bola kita, nasib bahasa Indonesia sudah melewati kadar merisaukan dan memprihatinkan. Nah, mari kita mulai. Sebagai seorang penggila sepak bola, tentulah saya akrab dengan tayangan langsung pertandingan sep
  • 9

    Nov

    Lomba Menulis di Blog Pribadi: Berhadiah!

    Dulu, blog bagi saya tak ada bedanya dengan buku harian, tempat saya leluasa menulis apa saja yang melintas di dalam benak. Benar-benar menulis, benar-benar apa adanya. Tak peduli statistik atau angka yang menunjukkan jumlah pengunjung yang bertandang dan membaca tulisan saya. Tak peduli tampilanatau fitur yang bisa membuat blog saya tampak lebih ciamik. Sungguh, saya mengelola blog sekadarnya saja. Bagi saya, yang penting menulis. Lagi, dan lagi. Tapi, itu dulu. Lalu, takdir mempertemukan saya dengan kaum penggila blog. Mereka menamai dirinya, Blogger Bogor. Baiklah, sebagai tanda terima kasih, saya sebut saja salah satu tokoh yang menjerumuskan saya ke dunia menyenangkan ini, yang sebelumnya tak terbayangkan akan saya gandrungi. Namanya, Mataharitimoer. O, ya, saya tahu, kamu pasti curi
  • 19

    Aug

    Semesta Cinta

    Sebut saja hatimu telah ditumbuhi cinta dari yang lain, merinduimu sering kali lebih membahagiakan daripada memilikimu lalu apa yang kamu namai rindu, sebenarnya, hanyalah hampa di semesta cinta. Sementara mimpi dan rindu terus bersekutu memampang sosokmu di tidurku. Bogor, Juli 2011
-

Author

Follow Me