• 30

    Apr

    Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan

    Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan 1. Tak ada yang bisa benar-benar pergi dariku, kamu juga. Ingatan akan mengembalikanmu pada ketulusan dan ketabahan rinduku, selalu. Kamu tahu itu, Sayang. 2. Waktu kamu sudahi hangat kebersamaan kita berminggu lampau lewat perih selamat tinggal, aku selalu berusaha melahirkan dan menghidupkan harapan, kendati itu semu. 3. Yang terindah dari malam Minggu, Sayang, adalah kesendirian. Padanya, kamu lebih dari sekadar bayang, lebih dari sekadar lama. 4. Dan, kamu tak kunjung pulang. Padahal hari dan hati makin berantakan. Aih! Bogor, 2012
  • 26

    Apr

    Negeri Warnut [2]

    Kisah ini bagian dari #rantaicerita #3penguasa yang digelar Komunitas Bloger Bogor. Bagian pertama dianggit oleh @ontohod, sedangkan bagian ketiga akan dilanjutkan oleh @ErfanoNalakiano. Negeri Warnut (Bagian Kedua) Aku tak mengenali ruang kosong yang begitu lapang ini. Mungkin rahim sempit atau malah angkasa lapang. Mungkin juga segi empat yang bisa kita namai maut. Apa pun itu, aku telah berdiri di sini. Seorang diri. Ya, hanya aku. Barangkali kamu pernah mengalami hal serupa, tersesat ke negeri yang tak kamu kenali. Kemudian waktu sadar, kamu kebingungan menerka-nerka di negeri mana gerangan kamu berada, mengutuk diri sendiri karena tak mengenali satu pun, entah benda atau ruang atau apa saja. Seperti itulah aku sekarang. Tak ada matahari. Aneh. Tapi dari mana cahaya itu bermula
  • 13

    Jan

    Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat

    Ketika menganggit tulisan ini, saya sedang menikmati lengking harapan Iwan Fals. Ya, dari sisi mana pun, wakil rakyat seharusnya merakyat. Dalam hal ini, kata merakyat bisa dimaknai menjadi rakyat. Artinya, anggota DPR bekerja dengan menggunakan mata, telinga, dan hati rakyat. Faktanya, saat ini banyak yang lebih sering memartai ketimbang merakyat. Selain itu, merakyat bisa juga berarti:berbaur dengan rakyat. Sederhananya, ada di tengah-tengah rakyat atau hadir ketika rakyat membutuhkan keberadaan mereka. Apa yang terjadi hari ini? Kita seolah sedang berada di negeri entah. Sewaktu banyak rakyat tak bisa melepas hajat di jamban yang memenuhi syarat, beberapa wakilnya malah mengeluhkan jamban di rumah rakyat yang sungguh megah. Alhasil, keluhan itu menimbulkan ‘belas kasihan’ p
  • 10

    Jan

    Marissa, Etika Sang Pesohor

    Aku bersyukur bisa mengenal dunia blog. Seolah tukang sihir, aku bisa menumpahkan apa saja yang kurasakan dan kata-kata seketika menjadi mantra sakti yang melegakan dan membahagiakan. Sesekali aku berjalan mengunjungi blog orang lain, layaknya peziarah yang berkunjung ke tanah mana saja yang dia inginkan. Sesekali pula kutinggalkan jejak berupa komentar di blog yang telah kusinggahi, sekadar memberi tahu bahwa aku telah berkunjung dan mencicipi jamuan yang disajikan di blog itu. Blog adalah dunia yang indah, dunia penuh warna. Dan, apa yang semula cuma iseng-iseng mengisi waktu, kini menghadirkan kesenangan yang, alangkah, membahagiakan. Kebahagiaan itu jadi gelenyar indah yang, seringkali, tak kutemukan di tempat mana pun dalam kehidupan yang penuh basa-basi ini. Lalu menjalarlah rasa ha
  • 10

    Nov

    Sungguh, Kamulah Pahlawanku!

    Tiba-tiba saja saya ingin menulis sesuatu tentang pahlawan. Tentu karena hari ini, 10 November, kita kenali sebagai Hari Pahlawan. Bagi saya, membincangkan pahlawan berarti pula upaya sederhana untuk menengok masa lalu, sejarah. Pahlawan apa? Inilah muasalnya. Kalau dikaitkan dengan bangsa tercinta, tentulah pahlawan bangsa. Namun, jika makna pahlawan itu dipersempitbukan “disempitkan”maka ia tak harus seseorang yang berjuang mengusir penjajah atau mempertahankan kemerdekaan. Pemulung, dalam kategori sederhana, adalah pahlawan kebersihan. Hansip yang siaga sepanjang hari membantu pengamanan sebuah pesta adalah pahlawan. Guru, yang menanamkan banyak hal ke kedalaman diri kita, adalah pahlawan. Pelawak, seperti Sule, yang membuat kita terpingkal-pingkal karena guyonannya bisa ja
-

Author

Follow Me