• 30

    Apr

    Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan

    Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan 1. Tak ada yang bisa benar-benar pergi dariku, kamu juga. Ingatan akan mengembalikanmu pada ketulusan dan ketabahan rinduku, selalu. Kamu tahu itu, Sayang. 2. Waktu kamu sudahi hangat kebersamaan kita berminggu lampau lewat perih selamat tinggal, aku selalu berusaha melahirkan dan menghidupkan harapan, kendati itu semu. 3. Yang terindah dari malam Minggu, Sayang, adalah kesendirian. Padanya, kamu lebih dari sekadar bayang, lebih dari sekadar lama. 4. Dan, kamu tak kunjung pulang. Padahal hari dan hati makin berantakan. Aih! Bogor, 2012
  • 28

    Nov

    Hujan, Tuhan, dan Gumam-gumam Tak Beraturan

    1. Hujan yang kaurindukan adalah keheningan yang kutakutkan. Padanya, duka seringkali mengeram lebih lama. Hanya hujan, yang tumpah sesekali, mempertemukan aku dengan bayangmu, di senyap ingatan. Di luar, hujan mulai reda. Di hatiku, rindu menggerimis. 2. Aku menyukai rindu, karena ia bisa kapan saja, melesapkan kamu ke jantung anganku. Seperti burung, rinduku tak pernah murung, selalu tahu cara berbahagia, setiap senja tiba. Seperti dugaanmu, rindu adalah gerimis yang melebat tiba-tiba, sebelum akhirnya ia pulas di pipiku. Rinduku linang sepi, benciku lengang pinta. Tumbuh-tegang di hatiku, sama-sama menginginkan kehadiranmu. Sungguh, aku memilih rindu,padanya luka dan cinta menyatu. 3. Kita sepakat meninggalkan masa silam, tapi kita suka diam-diam mengunjunginya. Lewat hujan, lew
  • 18

    Nov

    [Puisi] Rumah Doa

    Tuhan mengabulkan doa yang dirapalkan para perindu, yang setia menyuburkan cinta sejati di hatinya. 24 September 2011, 02:44 (1) Tiap kali aku meledakkan doa-doa pengharapan, aku paham kamu adalah dinamit yang betapa berkuasa meriuhkan kesunyian. Di hatiku. Kebahagiaan akan datang, Begitu janji Tuhan, yang tak merelakan seseorang, termasuk aku, menanggung beban yang tak mampu dipikulnya. Tuhan pasti tahu, aku tak mampu menanggung beban kehilangan. Terutama, kehilangan harapan. Maka, Ia kirimkan kamu, matahari penyedia cahaya. Dalam hal merindu, Tuhan menjanjikan pertemuan. Dalam hal mencinta, Tuhan menjanjikan kehilangan. Tapi, kehilangan tak pernah semenyedihkan yang kauduga. (2) Kehilangan hanyalah babak luka yang diriwayatkan Pencerita dengan akhir yang kerap menjebak. Sementar
  • 17

    Nov

    Garuda Muda: Sesuatu yang Tertunda

    (1) Ada falsafah sepak bola yang diyakini keampuhannya oleh pelatih legendaris Jerman, Sepp Herberger. Menurut Herberger, keberhasilan dalam sepak bola ditentukan oleh tiga hal: sepertiga kebiasaan, sepertiga keberuntungan, dan sepertiga kebersamaan. Kebiasaan didapatkan melalui latihan. Keberuntungan terjadi di lapangan. Dan, kebersamaan dibina di luar keduanya. Hasilnya, Herberger mengantar Jerman meraih Piala Dunia 1954. Pada pertandingan terakhir penyisihan Grup A, Garuda Muda menderita kekalahan pertama. Lawan yang mengalahkan mereka tak tanggung-tanggung, Malaysiamusuh bebuyutan yang juga juara bertahan. Yongki dan koleganya bermain dengan baik, meskipun belum sebaik penampilan mereka pada tiga laga awal. Kebiasaan bermain yang mereka dapatkan dari latihan, tidak terlalu tampak pad
  • 12

    Nov

    [Puisi] Seseorang Bernama Cinta

    Semua orang pernah terjatuh, tapi tak banyak yang mau mempelajari mengapa mereka bisa terjatuh. 19 September 2011, 19.27 (1) Pertemuan tak terduga. Secara tidak sengaja aku bertemu denganmu, Cinta. Waktu itu, di sebuah ruang lapangyang kita namai masa lalukamu baru saja menyeka air mata yang mengalir di pipimu. Seperti orang berduka, tergesa-gesa menyembunyikan kesedihan di matanya. Tetapi, matamu tak terlalu pandai bersandiwara. Setelah itu, kamu bercerita tentang kasih tak sampai. Bukan kisah-kusut yang selama ini hanya aku temukan di dalam roman-roman pujangga lama. Ini kisah nyata, kisah yang benar-benar kamu alami. Katamu, adat memaksa kamu mengubur harapan dan keinginan untuk menikah dengan lelaki yang kamu dambakan. Waktu itu, aku merasa sudah sangat mengenalmu. Kita seolah sud
  • 24

    Oct

    Telusur Tradisi Dahsyat Bersama Khrisna Pabichara

    Telusur Tradisi Dahsyat Bersama Khrisna Pabichara Sumber: Harian Umum Galamedia, 10/3/2011 KHRISNA Pabichara adalah salah satu pengarang yang “solid” keterikatannya dengan kearifan lokal tanah leluhurnya, Makassar. Kebanyakan buah karyanya selalu mengusung bagian-bagian dari budaya Sulawesi Selatan. Hal itu terlihat dalam buah karyanya berupa buku kumpulan cerpen yang terbit dengan kover sangat eksotis bertajuk Mengawini Ibu. Dalam Mengawini Ibu tersebut, kita seolah dipaksa untuk menelusuri jejak dahsyat adat tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. 12 cerpen yang terangkum dalam kumpulan tersebut demikian solid menjejak kisah yang terkait budaya Makassar itu. Kedua belas cerpen itu adalah Gadis Pakarena, Arajang, Mengawini Ibu, Rumah Panggung di Kaki Bu
  • 17

    Oct

    Riwayat Luka

    Riwayat Luka Khrisna Pabichara 1 Seperti angan, angin musim penghujan memang ditakdirkan sebagai pemutar kenangan. Ada seseorang dengan rindu memusim, sedang menggugurkan kenangan, yang menghujan di dadamu, barangkali. Aku mencarimu di sela jari-jari hujan, yang kudapati sepampang kenangan. 2 Karena rindu, katamu, rumah segala kesedihan dan kesedihan adalah pintu menuju kebahagiaan yang paling muram. Aku terus bernyanyi untuk menidurkan kamu dalam mimpiku dan, di sana, tubuhmu terbuka mengundang pagi datang membawa cahaya dan embun untuk menguatkan rinduku. Saat jendela angan terbuka dan matahari tiba lebih pagi, aku biarkan rinduku menghangat. Berlarian, berlarian, berlarian: sebagai kenangan. Rindu memang rumah segala kesedihanbarangkali. 3 Semenjak luka kaunamai doa, aku tahu ke
  • 15

    Oct

    Sakramen Rindu

    1 Kampung kita benar-benar mati. Rumah-rumah di kanan-kiri jalan bergerak menuju sunyi. Dan, kita masih saling menyakiti, saling menjauhi. Tak ada alasan. Tak ada ulasan. Malam hening. Kunang-kunang melenting berkeredip di jauhan. Seperti rinduku, memercik tak beraturan, menggenapi cahaya dengan kelam. Tak ada haluan. Tak ada tujuan. 2 Tak banyak yang tahu bahwa rindu adalah ritual tempat cinta dimakamkan sehabis upacara sakral. Sakramen kematian, begitulah aku menamai takdir yang bertubuh lebih rapuh dari rama-rama. Parung, Oktober 2011
  • 13

    Oct

    Mahkamah Rindu

    1 Setiap rinduku selalu menyertakan gemerincing luka dan tawa. Yang samar, yang gahar. Telah sering benar kukatakan, sehingga kamu duga aku hanya berkelakar. Tidak, aku tahu dari mana rindu ini bermula. Dari kamu. Setiap rinduku selalu lahir dari gemeretak doa dan impi. Yang sayat, yang larat. 2 Akhirnya sepi yang mengambil alih, kamu menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh tidak ada. Sedang aku, disesatkan labirin duka. Seruntun duka, seperti dalam kisah-kisah purba, terpelecat dari kegelisahan merindumu, kini raung sepi yang tindih-menindih, yang silih-berganti. Sepi, ialah tangan-tangan waktu, yang seketika melumpuhkan doa. Hujan turun, kamu menjadi sesuatu yang nyata, di dada malam. Tetapi, simpanlah sangsimu itu. Biar kabut dan air mata memastikan mana yang lebih dulu lesap dan m
  • 10

    Oct

    Belantara Rindu

    Belantara Rindu 1 Di hutan ini, semua pohon kunamai rindu. Dan, seluruh arah berulu kepadamu. 2 Rinduku adalah anak panah waktu, yang melaju ke hatimu, melampaui segala yang mungkin kamu pahami. 3 Segala rindu semata ingatan. Segala luka semata kenangan. Cinta berada di antara keduanya. 4 Bunga dan kupu sudah lelap. Taman dan jalan mulai mati. Tinggal aku, berjaga di tidurmu, menunggui rindu. 5 Di matamulah perempuanku, cahaya berumah. Di sana, malamku memastikan yang lebih kilau dari bulan. Oktober 2011
- Next

Author

Follow Me