• 12

    Nov

    Pecat Wim, Putar Kompetisi

    Sepanjang sejarah persepakbolaan, pemecatan pelatih bukanlah sesuatu yang tabu. Sah-sah saja. Bahkan, sebenarnya, rezim Djohar AH termasuk berani ketika memutuskankontrak Alfred Riedlsecara sepihak. Alasannya pun, dulu, sangat mengada-ada. Konon, kontrak Riedl tidak sah karena bersifat personal, bukan kelembagaan. Meskipun, menurut dugaan saya, ini gagah-gagahan pengurus baru saja. Tapi, itu dulu. Sekarang Djohar AH seolah kehilangan nyali. Pelatih yang piawai menggerutu dan selalu menimpakan seluruh kesalahan kepada pemain, malah terus dipertahankan. Padahal, timnas senior kita sudah menderita empat kekalahan.Mimpi berlaga pada Piala Dunia 2012 di Brasil sudah pupus. Mustahil tercapai. Bahkan, memenangkan dua laga sisa pundengan catatan kondisi timnas kita tetap seperti sekarangmenjadi &
  • 12

    Nov

    Komentator Sepak Bola dan Bahasa Indonesia

    Kalau dipikir-pikir, prestasi sepak bola kita makin mengenaskan. Lebih tepatnya, menyesakkan dada. Betapa tidak, dalam lingkup regional saja, sudah lama kita menderita tunagelar. Dulu, kita pernah digelari macan Asia. Kini, Vietnan dan Myanmar pun tak lagi gentar menghadapi tim nasional kita. Tetapi, maaf, tulisan ini tidak akan membabar bagaimana dan mengapa prestasi sepak bola kita menukik tajam. Biarlah hal itu diurus oleh pakarnya. Cukuplah saya sebagai penggila bola saja. Tulisan ini cuma pantulan kerisauan dan keprihatinan saya atas nasib bahasa Indonesia. Seperti prestasi sepak bola kita, nasib bahasa Indonesia sudah melewati kadar merisaukan dan memprihatinkan. Nah, mari kita mulai. Sebagai seorang penggila sepak bola, tentulah saya akrab dengan tayangan langsung pertandingan sep
  • 10

    Nov

    Sungguh, Kamulah Pahlawanku!

    Tiba-tiba saja saya ingin menulis sesuatu tentang pahlawan. Tentu karena hari ini, 10 November, kita kenali sebagai Hari Pahlawan. Bagi saya, membincangkan pahlawan berarti pula upaya sederhana untuk menengok masa lalu, sejarah. Pahlawan apa? Inilah muasalnya. Kalau dikaitkan dengan bangsa tercinta, tentulah pahlawan bangsa. Namun, jika makna pahlawan itu dipersempitbukan “disempitkan”maka ia tak harus seseorang yang berjuang mengusir penjajah atau mempertahankan kemerdekaan. Pemulung, dalam kategori sederhana, adalah pahlawan kebersihan. Hansip yang siaga sepanjang hari membantu pengamanan sebuah pesta adalah pahlawan. Guru, yang menanamkan banyak hal ke kedalaman diri kita, adalah pahlawan. Pelawak, seperti Sule, yang membuat kita terpingkal-pingkal karena guyonannya bisa ja
  • 9

    Nov

    Lomba Menulis di Blog Pribadi: Berhadiah!

    Dulu, blog bagi saya tak ada bedanya dengan buku harian, tempat saya leluasa menulis apa saja yang melintas di dalam benak. Benar-benar menulis, benar-benar apa adanya. Tak peduli statistik atau angka yang menunjukkan jumlah pengunjung yang bertandang dan membaca tulisan saya. Tak peduli tampilanatau fitur yang bisa membuat blog saya tampak lebih ciamik. Sungguh, saya mengelola blog sekadarnya saja. Bagi saya, yang penting menulis. Lagi, dan lagi. Tapi, itu dulu. Lalu, takdir mempertemukan saya dengan kaum penggila blog. Mereka menamai dirinya, Blogger Bogor. Baiklah, sebagai tanda terima kasih, saya sebut saja salah satu tokoh yang menjerumuskan saya ke dunia menyenangkan ini, yang sebelumnya tak terbayangkan akan saya gandrungi. Namanya, Mataharitimoer. O, ya, saya tahu, kamu pasti curi
  • 9

    Nov

    Garuda Muda: Belum Waktunya Pesta!

    Konon, tidak sedikit penduduk Indonesia yang gila bola. Penggila bola di Indonesia tak peduli jenis kelamin, strata sosial, atau usia. Tua-muda, lelaki-perempuan, kaya-miskin. Uniknya, layaknya yoyo, kecintaan penggila bola di Indonesia terhadap tim nasionalnya gampang naik-turun. Beberapa waktu lalu, euforia itu memuncak semasa Timnas PSSI dilatih oleh Alfred Riedl. Gelora Bung Karno disesaki penonton setiap timnas bermain di kandang, tak peduli semahal apa pun tiket tanda masuknya. Kecintaan itu tak surut meski PSSI dalam kondisi kocar-kacir. Rezim Nurdin Halidyang waktu itu kukuh berkuasa akhirnya tumbangtak lantas membuat timnas dijauhi penggemarnya. Sampai-sampai, timnas menjadi ajang kampanye terselubung bagi segelintir orang. Namun, kecintaan itu mulai berkurang ketika pergantian r
  • 7

    Nov

    Balada Obor dan Mantan Atlet

    Dulu, dulu sekali, hati saya sering bertanya-tanya, apa sebab pembawa obor Sea Games atau pesta olahraga apa pun selalu dilakukan oleh mantan atlet? Mengapa bukan atlet yang masih muda, sedang segar-segarnya, atau yang bersiap terjun medan “perang”? Tapi, itu dulu, dan saya tidak akan membocorkan tahun kapan “dulu” itu terjadi. Kalau saya sebut tahunnya, pasti Anda dengan mudah akan menebak berapa usia saya saat ini. Dulu, dulu lagi, sebagai kanak-kanak yang beranjak remaja, saya sangat menyukai pesta olahraga seperti itu. Rasa haru akan menyeruak, mengaduk-aduk perasaan, terutama ketika lagu di Indonesia Raya dikumandangkan pada saat pengalungan medali. Syaratnya tidak mudah, lagu kebangsaan dan kebanggaan itu baru akan dikumandakan jika atlet kita meraih medali e
  • 2

    Nov

    Negara Bermalu, Negara Berbudaya

    Sejarah, hingga hari ini, masih merupakan rekaman sedih dari hal-hal mengerikan yang menyertai perjalanan bangsa. Sumpah Pemuda memang memantik gelegak perlawanan dan semangat kebersatuan, tetapi tak cukup kuat untuk memaksa kita agar segera melepaskan diri dari kungkungan penjajahan. Proklamasi memang menyulut harapan hidup lebih bermartabat dan merdeka dari segala bentuk keterbatasan, tetapi belum benar-benar mampu memerdekakan kita dari bentuk penjajahan lain, semisal kebodohan dan kemiskinan. Reformasi memang menyuguhkan euforia setelah sekian lama kita menjadi katak yang terperangkap di senyap tempurung, tetapi belum juga utuh mengawal kita menuju bangsa yang lebih berbudaya. Harapan menuju kehidupan bernegara yang lebih bermartabat dan berbudaya memang masih ada, dan harus selalu ad
  • 2

    Nov

    Alhamdulillah, Pencalonan Syahrini "Sesuatu Banget"!

    Artis jadi Calon Walikota? Boleh saja. Tidak ada larangan seorang artis mencalonkan diri atau dicalonkan untuk menjadi walikota. Sah-sah saja. Artis punya hak pilih dan berhak pula untuk dipilih. Tetapi, terpilih atau tidak, rakyatlah yang menentukan. Meski berpuluh-puluh partai mendukung, punya duit bergudang-gudang, atau ketenaran yang luar biasa, nasib setiap calon tetap berada di tangan para pemilih. syahrini | foto: ceknricek Partai mencalonkan artis? Boleh saja. Sudah banyak artis yangtenar dan punya banyak penggemardicalonkan oleh partai politik. Jurus ini terbukti ampuh menarik simpati pemilih sepanjang pesta demokrasi. Dede Yusuf, misalnya. Ketenaran diyakini menjadi salah satu faktor yang memuluskan jalannya untuk menduduki jabatan orang nomor dua di Jawa Barat. Bahkan, Rano K
  • 29

    Oct

    Di Mana Ini Akibat Pengaruh Bahasa Asing

    Wah, tanpa terasa sudah sehari peringatan Sumpah Pemuda berlalu. Dulu, dulu sekali, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sekarang, sebagai pemuda, apa sumpah kita? Masihkah kita berhasrat menjunjung tinggi bahasa persatuan itu? Jawabannya bisa jadi ya, mungkin juga tidak. Faktanya, anak muda masa kini sibuk menggencarkan pemakaian bahasa alay. Nah…. Akan tetapi, bukan hanya anak muda yang dengan atau tanpa sengaja merecoki bahasa Indonesia. Pejabat, cendekia, dan tokoh publik pun suka melakukannya. Ada yang suka-suka perutnya mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, ada yang salah guna kata, ada yang tanpa sadar melanggar kaidah bahasa dengan menggunakan istilah yang rancu dan amburadul. Lewat aku
  • 28

    Oct

    Sepatu Kasogi untuk Dara yang Pernah Duduk Sebangku Denganku

    Pembuka Kenangan Sungguh, aku tidak sedang ingin mengenang masa silam. Apalagi mengungkit-ungkit peristiwa masa kanak yangbeberapa bagian di antaranyasangat ingin kulupakan. Tetapi, Matahari Timoer memberikan tantangan yang sangat menarik, yakni menulis pengalaman masa kecil. Maka, segeralah kugali ingatan. Menguak segala yang nyaris terlupa. Termasuk menghubungi teman masa kecil yang masih bertahan di tanah kelahiran, Muhammad Jamil Nur. 1980, Tahun Pertama Terlalu kecil untuk masuk SD, kata Pak Rudda, Kepala SD Negeri Inpres 134 Bumbungloe, kepada ayahku. Seingatku, waktu itu aku menangis, lebih tepatnya meraung, karena enggan pisah sekolah dengan kakakku, Saleh Yadli, yang langsung masuk kelas 2 sebagai murid pindahan dari SDN Manjang Loe. Aku tidak mau masuk TK! Teriakku. Berkali

Author

Follow Me