Negeri Warnut [2]

26 Apr 2012

Kisah ini bagian dari #rantaicerita #3penguasa yang digelar Komunitas Bloger Bogor. Bagian pertama dianggit oleh @ontohod, sedangkan bagian ketiga akan dilanjutkan oleh @ErfanoNalakiano.

Negeri Warnut (Bagian Kedua)

Aku tak mengenali ruang kosong yang begitu lapang ini. Mungkin rahim sempit atau malah angkasa lapang. Mungkin juga segi empat yang bisa kita namai maut. Apa pun itu, aku telah berdiri di sini. Seorang diri. Ya, hanya aku. Barangkali kamu pernah mengalami hal serupa, tersesat ke negeri yang tak kamu kenali. Kemudian waktu sadar, kamu kebingungan menerka-nerka di negeri mana gerangan kamu berada, mengutuk diri sendiri karena tak mengenali satu pun, entah benda atau ruang atau apa saja. Seperti itulah aku sekarang.

Tak ada matahari. Aneh. Tapi dari mana cahaya itu bermula? Semula kupikir ada listrik di sini, seperti di duniaku sebelumnya yang tatkala malam tiba segala tetap benderang karena listrik. Namun setelah memicingkan mata, mengawaskan pandangan, cahaya itu tak berasal dari sebuah bohlam. Belum lagi reda keanehan yang mendentur-dentur kesadaranku, seketika ingatan terpacak pada sosok yang tiba-tiba saja lenyap. Deil. Ya, ke mana Deil? Apakah penduduk di negeri asing ini punya ilmu lenyap yang sekonyong-konyong bisa hilang dari pandangan? Betapa ganjil.

Dulu, dulu sekali, dalam sebuah tidur yang lelap, aku pernah tersesat ke dunia asing. Tetapi tak seasing sekarang. Di sini, segala yang ada seperti lahir dari sepasang tangan perupa yang menghidupkan sesuatu dari roh cinta. Pohon-pohon dari kertas, rumah-rumah dari kertas, makhluk-makhluk dari kertas. Aku butuh seseorang yang bisa menyelamatkanku dari labirin pikiran menyesatkan ini. Bagaimana bisa manusialebih tepatnya boneka kertasberjinjit, berjalan, atau berlarian bak manusia di duniaku yang dulu?

Sayang, Deil tak kunjung datang.

Aku terus berjalan, meninggalkan bunyi keretas setiap kaki menapak di jalan yang juga, sepertinya, terbuat dari kertas. Aku begitu berhati-hati, takut jeblos dan terlempar ke tempat yang lebih asing. Manusia-manusia kertas yang tak seberapa jauh dariku itu berdiri menatapku dengan tatapan yang menakutkan, seperti orang-orang yang terusik melihat kedatangan orang tak dikenal, aku. Mereka tak bersuara. Hanya menatapku lekat-lekat tanpa kedipan mata. Lekat sekali. Mata mereka yang lebar terlihat nanar. Aku mendekat. Mereka berpandangan, dan dalam waktu singkat berbalik lalu menghilang ke dalam rumah.

Aku tercekat, dadaku sesak. Pintu rumah kertas itu sekarang tertutup rapat. Aku mendengar gumam-gumam ganjil dari balik pintu itu.

Buka saja pintunya!

Jangan!

Iya, jangan dibuka….

Kenapa?

Dia orang asing. Matanya api!

Aku bergerak lebih mendekat. Gumam-gumam itu senyap. Tapi telingaku dapat menangkap dengan jelas hela napas orang-orang yang ketakutan.

Tutup jendela!

Desisan itu seperti petir di kupingku. Setengah berlari aku datangi jendela yang masih tersingkap. Jendela itu berjeruji. Aku pegang jeruji jendela itu, melongok ke dalam, dan jantungku berdegup lebih cepat ketika sepasang mata tiba-tiba menatapku dengan tajam dan sesuatu yang lembut menimpa jemariku. Mata itu menghilang.

Menjauh dari jendela!

Seseorang terdengar mendengus. Dia orang baik.

Dari mana kamu tahu? sanggah yang lain.

Matanya, matanya.

Jangan mudah percaya pada orang asing.

Ingin rasanya aku berteriak kencang membantah kecurigaan manusia-manusia kertas itu, setidaknya mengatakan aku hanya ingin tahu ini negeri apa atau kalian tak perlu cemas, aku tak bermaksud jahat atau apa saja yang bisa menenangkan mereka. Tapi lidahku kelu, tenggorokanku kering. Aku menahan napas sampai-sampai dada dan perutku seakan meledak.

Dia sudah pergi….

Belum, bantah yang lain. Orang asing itu sedang menunggu. Kita tak boleh lengah.

Kenapa kalian takut?

Matanya api! tukas yang lain dengan serempak.

Aku tak dapat menahan diri lagi. Aku harus menjelaskan kepada mereka soal siapa aku dan mengapa aku tersesat di negeri warnut ini. Ah, Deil, harusnya kamu masih ada. Aku gedor-gedor dinding rumah, tapi tak ada suara. Anehnya, dinding itu tertekuk, melekuk, setiap kepalan tangan aatau telapakku menyentuhnya. Meski begitu, dinding itu tak koyak.

Lihat! Dia akan menghancurkan rumah kita!

Tenang, ujar yang lain, dia tidak tahu rahasia rumah kita.

Katamu, dengus seseorang dengan lirih, matanya api?

Jangan-jangan….

Lalu suara-suara itu menghilang lagi. Mataku api? Aku tak mengerti. Kali ini amarahku meluap. Aku harus berbicara dengan mereka tanpa terhalang dinding kertas yang menyebalkan ini. Kepalan tanganku segera menghantam dinding, tapi, seperti tadi, dinding rumah kertas itu tak koyak. Amarahku membuat darah mengalir ke kepala. Mataku berair. Aku menangis? Aneh, jarang aku menangis ketika sedang terdesak. Tapi, aku merasaku pipiku basah. Lantas kuseka pipiku, dan hatiku tercekat begitu melihat tanganku penuh darah.

Jangan menangis….

Aku menoleh ke samping, Deil berlari ke arahku. Bukan berlari. Dia seperti bola kertas raksasa, menggelinding.

Jangan menangis, serunya lagi. Air matamu api….

Aku menatap telapak tanganku. Darah di permukaannya tiba-tiba menyala. Lidah-lidah api meliuk-liuk ditiup angin. Aku tersentak. Serta-merta aku menggosok-gosokkan telapak tanganku ke dinding rumah, berharap dengan begitu api itu akan padam. Tetapi yang terjadi, oh … rumah itu terbakar. Orang-orang di dalam rumah sontak berlarian, menghambur ke luar rumah. Tubuh mereka terbakar. []

Bogor, 2012



TAGS @1bichara #rantaicerita Negeri Warnut


-

Author

Follow Me