Berpotong-potong Kenang di Makalehi

23 Apr 2012

Ini adalah tulisan pertama Grup 14 dari Cerita Berantai bertagar #3Penguasa yang digelar oleh Blogor (komunitas blogger Bogor). Tulisan kedua akan dibuat @ErfanoNalakiano, sedangkan yang ketiga oleh@celotehsaya.

BERPOTONG-POTONG KENANG DI MAKALEHI

Oleh Khrisna Pabichara

[1]

Lelaki-lelaki bermata beringas itu merubuhkan pagar, mendobrak pintu, dan melantingkan palang besi atau balok panjang di segala benda yang ada. Ayahku mengerut di pintu kamar tidurnya yang hancur berantakan. Ibuku gemetaran di sisinya, rok satinnya basah. Aku yakin ibuku sangat ketakutan. Aku berdiri, nanar, tak tahu apa yang mesti kulakukan. Tak ada lagi waktu untuk melarikan diri. Sia-sia juga berteriak meminta pertolongan, bahkan kepada Tuhan sekalipun. Boleh jadi, pada saat sebalau ini, Tuhan sedang ripuh menyaksikan orang-orang kalap berbuat semaunya. Senja yang mengerikan. Rahimku, ya, rahimku, dipaksa peristiwa menampung berbagai aroma sperma. Bahkan, aku tak menyadari mereka telah pergi karena perih tak tepermanai di hati melebihi luka menganga di kelangkangku.

Kelak, aku tahu, Makassar memang berdarah di siang itu, seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Nusantara. Kelak, petaka senja itu begitu benderang di tiap kenang, menyelinapkan dan menginapkan perih di tiap ingatan.

Sebenarnya, sejak itu, aku telah mati.

[2]

Dulu, dulu sekali, aku takut pada laut karena laut selalu mengingatkanku pada maut, selalu mengungkit ingatan dan memampang kembali masa ketika lelaki-lelaki berwajah sangar itu berlomba menggagahiku. Hingga kamu datang mengajakku bertahan dan aku, karena kamu, memilih bertahan. Kamu menantangku menunggui senja di tepian Losari. Setahuku, kamulah satu-satunya putra Makalehipulau terluar di bagian utara Pulau Sulawesiyang menimba ilmu di Makassar dan sangat setia menemani para tumbal-tumbal perubahan. Mereka berpesta-pora menikmati reformasi, sementara aku menjelma perempuan murung yang rajin memerah perih di tiap senja. Lupakan saja, katamu, kesedihan takkan mampu memulangkan segala yang telah pergi.

O, ya, percakapan kita, dulu, beberapa tahun setelah peristiwa berdarah itu, memaksa aku untuk selalu berharap akan ada lagi percakapan menggelitik sesudahnya. Andai saja kita tak menyelipkan cinta di sela-sela percakapan itu, mungkin kita masih di sini, di Losari, menunggu senja tiba sebelum malam merenggutnya dari pandangan kita. Tapi, kamu memilih raib, lesap ke pedalaman misteri. Barangkali hardikan ayah dan sikap sinis keluargaku telah menciutkan nyalimu atau malahan menyakiti hatimu. Kamu menghilang begitu saja. Membawa kenangan, membawa hatiku.

Sejatinya, aku tak perlu bertahan hidup lagi.

[3]

Kamu suka senja?

Tidak!

Apa gunanya setiap sore kamu duduk termangu, di sini, memandangi senja?

Hehehe….

Malah tertawa. O, aku tahu, biasanya perempuan suka senja.

Aku suka menyendiri.

Di saat senja?

Senja lagi!

Kamu tahu Makalehi?

Apa itu?

Rumah bagi beribu ikan, surga bagi para penyelam.

Rumah?

Maksudku, pulau.

Di mana?

Di lingkar Laut Sulawesi. Barisan kelapa dan pandan, pesona terumbu karang, danau kawah bertangkup teratai, dan Gua Tengkorak di Bukit Larangan.

Itu saja?

Ada padang lamun di dasarnya.

Padang lamun? Apa itu?

Semacam padang rumput, tapi di dasar laut.

Menarik!

Itu saja?

Di sana ada senja?

Ada. Senja paling senja!

Aku tak suka senja.

Sesungguhnya, sejak itu, aku seolah dilahirkan kembali.

[4]

Tak perlu bertanya kenapa akhirnya aku sambangi juga pulau kelahiranmu, pulau yang hanya bisa ditempuh dengan perahu kayu selama delapan jam dari Manado. Namun, begitu mataku tertumbuk pada pantai terjal yang langsung berhadapan dengan laut lepas, segala letih melesap. Mestinya aku berterima kasih kepadamu karena kabar tentang pulau ini memang benarlah adanya dan dari kamulah asalnya. Hanya saja, aku takkan berterima kasih kepadamu. Kamu tahu kenapa? Karena kamu pergi begitu saja, tanpa selenting pun kabar.

Di sini, di Makalehi, aku benamkan luka.

Inilah Makalehi. Masih seperti dulu. Danau kawah, padang lamun, dan ikan-ikan berloncatan di permukaan laut. Senja di Makalehi pun masih sama, masih senyap. Yang berbeda semata karena kamu tak lagi di sini, di sisiku, menghitung butir-butir pasir.

Angin senja bergerak tunak dari arah barat laut. Lagi-lagi aku didesak ingatan. Lupakan saja, katamu. Anehnya, aku tak pernah bisa. Aku selalu ingin tahu bagaimana kabarmu, setidaknya tahu di mana kini kamu bermukim. Ketahuilah, Togu, aku tak mampu bertahan. Aku tak bisa menghapus seluruh ingatan tentangmu. Jadi, kubiarkan saja ingatan itu tumbuh bersama rindu, di hatiku.

Katamu, dulu, tak semua yang pahit itu wajib dilupakan. Katamu lagi, banyak peristiwa yang tak perlu kita pertanyakan kenapa dan bagaimana ia terjadi, karena kita hanya pelakon yang ditugaskan merawat ketakutan dan kecemasan. Duh, Togu, aku tak kunjung paham mengapa perbedaan fisik dan keyakinan membuat kita seolah hidup di negeri terbelah, negeri tertulah. Karena itu, kumohon agar kamu tak memintaku untuk melupakanmu. Bagiku, rindu tak mengenal tepi.

Sore ini, aku menunggumu bertutur tentang senja atau laut atau legenda atau apa saja. Aku ingat, kamu paling suka kisah-kisah tentang lelaki-lelaki setia, apalagi kisah Titus atau Datu Museng. Karena cinta, katamu. Aku juga ingat, kamu paling suka bergumam tentang Tuhan dan takdir-Nya yang tak bisa diganggu gugat. Setiap kamu bercerita, aku memilih jadi pendengar setia, yang sesekali merengut atau tersipu.

Kini, anganku mengembara menembus segala batas. Terpampang lagi tragedi yang akhirnya memaksamu menjauh dariku: sejarah penggagahan yang setiap babaknya selalu memilukan. Saat itu, kamu dan keluargamu bertandang ke rumahku untuk meminangku. Belum lagi khatam kamu berkata, ayahku sudah menukas dengan sengit.

Tidak! kata ayahku, bagaimana bisa aku menyerahkan putriku pada kalian yang dulu telah mengoyak-ngoyak kehormatannya!

Aku tahu, saat itu kamu marah, kedut liar di pipimu ialah bukti.

Namun, kamu memang anak laut yang tunai membaca badai. Dadamu, selega laut yang tabah menelan segala. Alih-alih meruapkan amarah, kamu malah bertutur dengan santun bahwa kamu, sesungguhnya, tak ada hubungannya dengan masa laluku.

Memang, arah nasib tak pernah sanggup kita ubah.

Aku tahu hatimu terluka. Sama, Togu, sama, hatiku juga terluka. Dan, kita tak perlu bertanya luka siapa yang paling perih.

Setelahnya, aku bersedia mati, untukmu!

[5]

Usiaku waktu itu baru saja melewati dua puluh satu tahun. Sudah waktunya memiliki kekasih. Itu sebabnya aku selalu ingin berada di dekatmu, menemanimu memandangi laut dan senja. Aku pun selalu ingin menikmati keredip matamu dari jarak sejengkalbahkan, andai kata bisa, lebih dekat dari itudan berusaha menahan geletar ganjil di dada. Sayang, nasib memilih alur lain yang tak pernah kukehendaki. Bayangkan, aku ditelantarkan oleh takdir tepat ketika umurku dua puluh dua tahun.

Tapi, ah, kamu! Bukan kamu, akulah yang tak berdaya. Aku takut tak ada lagi ruang lapang yang tersisa di hatimu bagi gadis sisa sepertiku. Ya, kepengecutan seolah ditakdirkan menjadi teman sejatiku, menghantui kapan saja aku berniat menyapamu. Diam-diam, aku hanya memandangimu dari jauh. Aku memang pengecut, Togu. Aku….

Bukan, bukan karena hasrat memilikimu maka aku berlari mendekatimu!

Kita berbeda, sangat berbeda! katamu.

Apanya?

Segalanya!

Bukan karena aku…?

Bukan!

Tapi kita saling mencintai.

Kamu terdiam. Menatapku sangat lekat. Kamu suka laut?

Tidak!

Kenapa? Karena peristiwa mengerikan itu?

Sesuatu bergerak-gerak di mataku, aku tidak yakin bakal sanggup menahannya.

Maaf, katamu sambil mengelus rambutku, dan, ah, kaukecup keningku dengan lembut, sangat lembut. Kamu harus bertahan, Lin. Hidupmu tak selesai hanya karena peristiwa kelam senja itu! Lagi pula, kerabatmu enggan berbagi tempat denganku.

Lalu, kuremas jemarimu, berharap semoga ketabahanmu mengalir dan mengalur ke hatiku.

Kamu ingat kisah Benerice atau Maipa? tanyamu.

Aku mengangguk.

Bisakah kamu lebih kuat dari Benerice atau Maipa?

Tidak mungkin! Aku bukan Benerice atau Maipa. Aku akan tetap menunggumu di persilangan cemas dan harap.

Tak ada yang perlu kita cemaskan, katamu.

Seperti tak ada lagi yang bisa kita harapkan?

Laut memang jauh lebih siap menerima perbedaan daripada manusia. Ia tak menanyakan jenis ikan atau makhluk apa saja yang bermain-main di rahimnya. Ia tak membedakan kerang dan mutiara, karang dan padang lamun, bahkan ombak dan riak.

Itu sebabnya kamu suka laut? tanyaku.

Ya!

Sebenarnya, saat itu, aku ingin mati dalam pelukanmu.

[6]

Kutulis kisah ini bukan karena berharap kamu mau kembali. Memang, sesekali aku ingin mengajakmu bertualang ke masa silam, semacam tapak tilas, yang darinya kamu dan aku lebih leluasa menerawang masa datang. Mungkin juga mengeja masa lalu, seperti Titus mengenang Benerice atau Datu Museng merindui Maipa Deapati. Lalu kita berlomba menyelam ke dasar tasik, memetik butir-butir air mata, melenggang di sela jari-jari ganggang, membenamkan perih yang tak tertanggungkan.

Aku sudah di pulau ini, Togu. Menunggui senja, menunggui kamu. Lihat, matahari mengintip dari balik arakan awan. Lihat, ikan-ikan begitu riang berlompatan ke sana-sini. Nun jauh di ujung timur Makalehi, Gua Tengkorak dan Bukit Larangan memanggil-manggil kita. Togu, malam belum tiba, tapi kamudi pucuk pandangkusudah terbang rendah dengan sayap peri berenda sepi. Aku berhitung dalam hati sebelum akhirnya kuputuskan untuk berlari mengejarmu, mendekapmu.

Tapi, ah, kamu!

[7]

Inilah Makalehi. Dulu, Togu, kamu pernah bercerita kepadaku tentang kupu-kupu dan terumbu karang. Kamu bohong. Tak ada kupu-kupu, Togu, hanya ada karang. Juga jejak kenangan. Silakan hapus jejak kenangan itu di hatimu, aku tidak! Bagiku, kenangan itu abadi. Kamu masih ingat Gua Tengkorak? Di sana, pertama kali kita rasakan betapa ciuman itu membakar, mengeringkan dan mengarangkan air mata. Di gua itu pula kamu peluk tubuhku: selekat Datu Museng yang enggan melepas Maipa Deapati, selesap Titus di rengkuh Benerice.

Tapi, ini bukan Makassar atau Yerusalem, Togu, ini Makalehi. Yang asing!

Bogor, 2012


TAGS khrisna pabichara #rantaicerita Pulau Makalehi


-

Author

Follow Me