Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat

13 Jan 2012

Ketika menganggit tulisan ini, saya sedang menikmati lengking harapan Iwan Fals. Ya, dari sisi mana pun, wakil rakyat seharusnya merakyat. Dalam hal ini, kata merakyat bisa dimaknai menjadi rakyat. Artinya, anggota DPR bekerja dengan menggunakan mata, telinga, dan hati rakyat. Faktanya, saat ini banyak yang lebih sering memartai ketimbang merakyat. Selain itu, merakyat bisa juga berarti:berbaur dengan rakyat. Sederhananya, ada di tengah-tengah rakyat atau hadir ketika rakyat membutuhkan keberadaan mereka.

Apa yang terjadi hari ini? Kita seolah sedang berada di negeri entah. Sewaktu banyak rakyat tak bisa melepas hajat di jamban yang memenuhi syarat, beberapa wakilnya malah mengeluhkan jamban di rumah rakyat yang sungguh megah. Alhasil, keluhan itu menimbulkan ‘belas kasihan’ pihak sekretariat untuk melakukan perbaikan dengan anggaran miliaranyang, kabarnya, cukup bagi penyediaan dua ratusan jamban.

Belum lagi berita soal jamban itu reda, tersiar kabar perbaikan ruang rapat yang pagu anggarannya pun tak tanggung-tanggung: puluhan miliar. Maka, tudingan kritis soal kucuran-kucuran dana perbaikan ajaib itu segera mengalir dari segala penjuru. Pasalnya, rakyat kerap mendengar dengkur anggota DPR ketika rapat berlangsung di ruang mewah itu. Belum lagi kursi-kursi tak bertuan karena pemiliknyayang wakil rakyat ituentah sedang berada di mana tatkala sidang sedang berlangsung. Tak heran jika banyak orang mempertanyakan manfaat permewahan ruang rapat itu.

Masih dalam lagu yang sama, Iwan Fals berpesan, Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Kata tidur dalam lagu ini bisa bermakna ganda. Makna pertama terkait dengan tidur yang benar-benar tidur. Sedangkan makna kedua bisa saja lalai, lupa, atau tidak mau tahu perasaan rakyat yang diwakili.

Tidur yang pertama masih bisa diterima karena tubuh letih dan beban pikiran bisa memungkinkan hal itu terjadi. Apalagi bila suasana ruang rapat mendukung serangan kantuk itu, bisa benar-benar pulas. Namun makna yang kedua berhubungan dengan pengkhianatan terhadap para pemilih, dalam hal ini rakyat yang diwakili.

***

Lalu, saya buka lagi kenangan-kenangan 2009. Tak lama berselang seusai Pemilu, banyak caleg diserang penyakit sekonyong-konyong, seperti sekonyong-konyong depresi, stres, bahkan gila. Hanya segelintir saja yang bisa berlapang dada menghadapi kegagalan, lebih banyak yang tak siap menerima kenyataan. Ada yang tak berani lagi berbaur dengan rakyat sekampung karena beban malu tak terperi, ada yang harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa, ada yang harus berurusan dengan orang pintar. Ada juga yang marah-marah dan menagih segala yang telah dikorbankan, semisal Posyandu yang dibongkar paksa karena sang caleg gagal melenggang ke Senayan.

Dari kenangan itu benak saya beralih ke Senayan. Jelaslah mereka yang sekarang duduk manis di sana adalah orang-orang pilihandan tentu saja dipilih rakyat karena siluman tidak ikut Pemiluyang seharusnya menjalankan amanat rakyat dengan sebagaimana mestinya. Atau, kalau bisa, dengan sebaik-baiknya. Paling tidak, menurut Iwan Fals, jangan hanya tahu nyanyian lagu setuju.

Sebagai kaum pilihan, anggota DPR tak perlu merasa cemas atau ketakutan ketika didatangi orang-orang yang mereka wakili. Kalau perlu, ajak mereka masuk ke dalam ruang rapat mewah itu untuk menyampaikan pikiran dan perasaan mereka. Uniknya, saat rakyat berbondong-bondong ke Senayan, yang menemui rakyat biasanya polisi dengan pentungan karet, gas air mata, bom asap, atau peluru karet. Aneh bin ajaib, di negeri ini orang-orang takut pada pemilih yang mereka wakili.

***

Apa pun kenyataan yang terjadi saat ini, tanpa sengaja anggota DPR telah memberikan pendidikan politik, meskipun harus dibayar mahal oleh rakyat. Pendidikan itu mencakup makin terangnya siapa yang layak pilih dan siapa yang sebenarnya tidak layak pilih. Atau, siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang harus dilupakan. Ya, berkat rentetan tersingkapnya kedok sebagiansekali lagi, sebagian anggota DPR, rakyat mulai waspada agar tidak salah pilih pada pemilu berikutnya.Bagaimanapun juga, rakyat harus berterima kasih kepada anggota DPR sekarang karena telah diingatkan bahwa kesalahan satu hari saat memilih harus dibayar bertahun-tahun.

Sebaliknya, anggota DPR juga tak harus mencak-mencak karena dituding oleh rakyat telah menggunakan aji mumpung atau mantra mentang-mentang.Masih ada waktu dua tahun untuk berbenah agar bisa memenuhi harapan para pemilih: menjadi wakil rakyat yang memang merakyat. []

@1bichara, Januari 2012


TAGS @1bichara DPR Iwan Fals Wakil Rakyat Anggaran DPR Jamban DPR


-

Author

Follow Me