Marissa, Etika Sang Pesohor

Posted by dusunkata on Jan 10, 2012 in Esai |

Aku bersyukur bisa mengenal dunia blog. Seolah tukang sihir, aku bisa menumpahkan apa saja yang kurasakan dan kata-kata seketika menjadi mantra sakti yang melegakan dan membahagiakan. Sesekali aku berjalan mengunjungi blog orang lain, layaknya peziarah yang berkunjung ke tanah mana saja yang dia inginkan. Sesekali pula kutinggalkan jejak berupa komentar di blog yang telah kusinggahi, sekadar memberi tahu bahwa aku telah berkunjung dan mencicipi jamuan yang disajikan di blog itu.

Blog adalah dunia yang indah, dunia penuh warna. Dan, apa yang semula cuma iseng-iseng mengisi waktu, kini menghadirkan kesenangan yang, alangkah, membahagiakan. Kebahagiaan itu jadi gelenyar indah yang, seringkali, tak kutemukan di tempat mana pun dalam kehidupan yang penuh ‘basa-basi’ ini. Lalu menjalarlah rasa hangat, seolah berkata “Ayo!” atau “Lagi!” dan aku tak ingin berhenti lagi.

Di dunia ini pula aku bertemu dengan banyak orang. Pertemuan yang terjalin lewat kata-kata itu sesekali menyenangkan, sesekali menjengkelkan. Yang menyenangkan itu menghadirkan inspirasi tak tepermanai lewat tulisan yang ciamik dan menggugah. Yang menjengkelkan itu kerap menularkan energi negatif lewat tulisan yang menguarkan kebencian dan samar amarah.

Begitulah, dunia memang lebih indah jikalau banyak warna.

***

Tibalah aku di sebuah blog seorang pesohor. Dulu, selain piawai di dunia model dan film, pesohor ini juga aktif dalam dunia politik. Bahkan sempat maju sebagai calon pemimpin di salah satu provinsi di negeri tercinta ini. Marissa Haque, namanya. Nama blog-nya tak kalah keren, Fastabiqul Khairat. Lumrahnya setiap tualang lain, pastilah ada hal menarik yang membuat hatiku kepincut menyambangi blog pesohor itu. Nah, awalnya bermula dari tagar yang sedang marak di Twitter: #kamseupay.

Kesan pertama begitu tiba? Jujur, biasa saja. Blog pesohor ini kurang menarik, baik dari suguhan tulisan maupun racikan bahasanya. Tak ada yang istimewa, bahkan banyak blog lain yang lebih bermutu. Kurang percaya? Silakan tanya alamat blog sang pesohor kepada Abah Google dan kunjungi tautannya. Akan tetapi, sebaiknya Anda berhati-hati atau mempersiapkan hati atau malah tak memakai hati ketika membacanya. Soalnya banyak hujatan, makian, dan umpatan. Selebihnya, kampanye tentang diri sendiri—semisal gelar akademik dan prestasi berlatar fisik—yang sebenarnya informasi seperti itu bisa kita dapatkan di tempat lain.

Alhasil, aku pulang tanpa sesuatu yang bisa mengetuk hati untuk kapan-kapan datang lagi, seperti ketika aku sambangi blog pesohor lain yang sering menyihir rinduku.

Ternyata aku salah kira. Hanya berselang sehari aku terseret gelombang penasaran untuk bertamu lagi ke blog yang dijuduli dengan mentereng itu. Penasaran akut itu dipicu oleh keinginan mencari kebenaran atas informasi rekan blogger lain yang telah dipermak komentarnya. Mereka adalah @harrismaul, @nonadita, dan @rudigints. Ini kasus ‘menggelikan’ sekaligus ‘menggilakan’ bagiku, karena belum pernah sebelumnya menemukan kasus ada komentar yang diubah secara licik untuk memenuhi ambisi sang pemilik blog.

Lalu, kukunjungi blog @nonadita yang melakukan klarifikasi atas komentarnya yang diubah di blog sang pesohor itu (bisa disimak di http://bit.ly/wdwKnO), dan klarifikasi @harrismaul lewat http://alturl.com/63smr yang tak kalah menarik. Supaya lebih utuh, aku datangi pula blog @rudigints tentang klarifikasi pengubahan komentarnya di http://rudigints.blogdetik.com/2012/01/0…

Sungguh, aku kaget. Tak terlintas di benakku seorang pesohor bisa melakukan tindakan naif—malah, licik—seperti itu. Jelas saja aku menuntut klarifikasi kepada sang pesohor melalui akun twitter-nya. Kebetulan istri penyanyi rok ternama itu sudah meng-follow akun twitter-ku, @1bichara. Bagiku, tindakan pengubahan komentar adalah kejahatan intelektual yang tak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi. Selain bisa menimbulkan preseden buruk bagi dunia blog, juga berpotensi melahirkan fitnah dan pencemaran nama baik. Kalau memang pemilik blog tak menyukai komentar itu, pilihan yang lebih bijak dengan menolak komentar, bukan mengubahnya. Sederhana, bukan?

Uniknya, bukan klarifikasi yang kudapatkan, melainkan ajakan agar aku lebih fokus pada kasus yang sedang ‘beliau’ hadapi. Kaget bukan kepalang membaca jawaban tak bernas seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang meminta klrafikasi atas suatu kejanggalan malah dialihkan untuk ‘bersama-sama’ menghadapi masalahnya? Jawaban lewat ‘mention’ itu ternyata memancing keributan baru. Banyak pihak, terutama belasan blogger, tidak bisa menerima jawaban ‘sederhana’ seperti itu.

Akibatnya bisa ditebak, akun sang pesohor kebanjiran ‘mention’. Lebih fatal lagi, sang pesohor tidak segera menjawab kegelisahan itu dan malah menghapus semua komentar yang ada di blog-nya hingga nyaris tak bersisa.

Bolehlah disebut ini cara kamseupay untuk menghapus jejak atau mengalihkan perhatian.

***

Apakah blog Fastabiqul Khairat milik Yang Mulia Marissa Haque itu dikelola sendiri atau dikelola oleh orang lain?

Inilah pertanyaan pertama yang melintas di benakku. Apa pun itu, baik oleh orang lain atau sang pesohor sendiri, pengubahan komentar untuk sesuatu yang berbau fitnah bukan sesuatu yang beretika. Menghapus seluruh komentar “yang diubah itu” tanpa klarifikasi kepada pihak yang dirugikan adalah tindakan yang lebih tak beretika.

Sebagai pemilik blog, tentulah Ibu Marissa Haque bertanggung jawab atas kecerobohan itu. Masalahnya, seberapa peka nurani sang pesohor untuk meminta maaf atau seberapa bernyali ‘beliau’ untuk memberikan klarifikasi? Entahlah….

Bagiku, blog tetap dunia ‘nyata’ yang menuntut kesopanan dan kesantunan. Dan aku takkan berhenti bertualang di dunia blog karena kasus seperti ini. Jadi, ya, menunggu lagi. Menunggu hati sang pesohor terketuk untuk memberikan klarifikasi dan jawaban, setidaknya demi ketokohan dan ketenaran dirinya sendiri. Semoga!

Parung, Januari 2012


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • Tumblr
  • TwitThis
  • Yahoo! Buzz

Tags: , , , ,

33 Comments

  • wongkamfung says:

    Beginilah seharusnya isi sebuah blog: informatif, berimbang, dan santun meski berisi gugatan. Bila para pemimpin, bahkan Pemimpin Tanpa Singgasana sekalipun, bisa menuangkan pikirannya ke dalam tulisan seperti ini, bisa jadi jaminan cara berpikirnya pasti runtut. ;-)

    Salam persahablogan,
    :mrgreen:

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Terima kasih atas kunjungan Mas WKF. Saya hanya menuturkan pendapat dengan data yang ada, kemudian pembacalah yang menentukan sendiri. Nah, Pemimpin Tanpa Singgasana mundur lagi jam tayangnya.

    Salam takzim

    [Reply]

    rudigints Reply:

    bang wkf, tulisanku tak pantas yach…

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Pantas, Bang Rud.

    Salam takzim

    [Reply]

    wongkamfung Reply:

    Ah, jadi sensi gini si abang satu ini. Siapa yang berani bilang tulisanmu tak pantas? Aku gampar dia nanti! Yang tulisannya tak pantas ya yang sedang kau perbincangkan di blogmu itu.

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Meskipun tokoh yang dibincangkan Bang Rudi belum memberikan jawaban, Abang harus tetap semangat. Sabar, Bang Rudi.

  • melly says:

    Ibu MH itu seperti menganggap org2 yg bermain internet itu bodoh. dan dia sendiri yg pintar karena gelar akademik yg dia dapat….

    menganggap org2 itu iri terhadapnya..
    saking kepo-nya.. sya baca2 timeline twitternya..hahaha

    klo addiems bilang bu MH ini sakit jiwa, ya saya sedikit setuju :D

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Bagi saya, kasus ini tak mesti dibiarkan mati begitu saja. Kasihan masa depan dunia blog, bisa dipenuhi tipu-menipu.

    Salam takzim.

    [Reply]

  • MT says:

    awalnya ia menuding kamseupay buat orang lain, selanjutnya ia yg kamseupay dalam menyikapi komentar di blognya

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Kurang bijak dan kamseupay. Komentar yang diubah malah dihapus. Alangkah!

    [Reply]

  • HT says:

    sebagai orang yang mengaku bergelar akademis berderet, seharusnya bisa memberi contoh yang baik bukan sebaliknya, salam kenal

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Nah, pada titik ini, kesohoran mestinya diimbangi dengan kearifan. Semoga ‘beliau’ mau bertindak lebih arif.

    [Reply]

  • inside_erick says:

    haha Kamseupay … bagi saya aneh yah tdk mau melakukan klarifikasi dan malah mengajak orang lain ikut kasusnya, saya kira kejadian seperti ini tdk boleh dianggap remeh, lain kali ia akan berbuat serupa kl tdk ada sanksi. Namun demikian kita bisa menduga seberapa besar kualiatas MH dengan gelar doktornya itu.

    Gentleman Will Walk But Never Run .. (Sting)

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Demikianlah adanya, Mas. Dan, tentu saja saya pun tak hendak membiarkan kasus ini. Tindakan pembiaran seringkali menjerumuskan kita sehingga memandang remeh setiap masalah.

    Salam takzim

    [Reply]

  • ternyata selain di blog, di dunia maya lain you tube, sampai forum2 bnyk menghujat ibu doktor itu bahkan ada yg menuliskan kalau dia sedang sakit… sy baca tweetnya AM dan anaknya KA menganggap santai hujatan mbak hajjah itu di twitter…
    bagiku mbak yg bergelar panjang itu lebih dari kampungan….gak tahu etika ngeblog!

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Terima kasih, Mas Erfano. Semoga beliau bisa belajar lebih bijak.

    Salam takzim

    [Reply]

  • ochan says:

    Coba komentar saya ini diubah biar jadi lebih keren. Bisa tidak, Kanda? Hehehe….

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Saya sudah ubah komentar ini. Sekarang pasti lebih keren, Dinda. Wkwkwk….

    [Reply]

  • maulanaharris says:

    Saya juga kaget mas dengan isi blog-nya yg rata2 mwnghujat orang2 tertentu, membanggakan diri sendiri (riya), kata2 yang vulgar dan terselip juga ayat2 alquran. Sungguh sepertinya bukan tulisan seorang Doktor. Jujur saya malu kalau menjadi rektor almamaternya. Dari judulnya saja sudah tidak mencerminkan seseorang yang intelektual.

    Satu lagu yang cocok untuknya yaitu Topeng-nya Peterpan…

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Saya mengalami hal yang sama. Ekspektasi tinggi ketika mulai membaca tulisan di blog beliau langsung jatuh. Akan tetapi, lebih kaget lagi ketika mengikuti perkembangan cara beliau menanggapi kasus pengubahan komentar itu. Pilihannya, akankah kita biarkan saja?

    Salam takzim

    [Reply]

    wongkamfung Reply:

    Sebaiknya dibiarkan saja karena kemungkinan besar jiwanya sedang sakit. Mungkin semenjak dikalahkan Atut+Rano Karno. Silakan cek video Youtube ini. Ada beberapa kata umpatan dari komentar yg sebagian saya baca dan saya ambil secara acak dari 569 komentar perdebatan yang ditulis untuk video itu: dongok, dungu, cabo, bloon, taik, tetek, taeeeek, kafir, ngewi, embicyl, goblog, pengecut, gembel, mental illness, dan saya yakin masih banyak lagi. Meskipun menggunakan nama macam-macam, dari gaya bahasanya jelas nama-nama itu ditulis satu orang.

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Baiklah. Meskipun sebenarnya saya tak ingin membiarkan hal seperti ini terjadi.

    Salam takzim, Mas WKF.

  • sefa says:

    dusunkata, aku tulisanmu. Enak dibaca & pilihan kosa katamu bagus & pas.
    Minta ijin belajar menulis disini. Salam!

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Terima kasih berkenan singgah. Mari belajar bersama. Salam takzim.

    [Reply]

  • MT says:

    saya cuma ngebayangin, jangan-jangan disertasinya ditulis persis seperti dia menulis di blog hahaha. kecuali kalo ditulis orang lain ;)

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Kalau disertasi pasti beda, Mas. Blog mungkin cuma tempat curhat. Tetapi….

    [Reply]

  • Pitra says:

    Sudah beberapa hari, dan si Marissa masih nggak menanggapi ya?

    Mungkin memang sudah bebal atau tak peduli atau menganggap pelanggaran etika ini hanya sebagai kasus paling keciiiiil (dibandingkan dengan perseteruannya).

    Yang penting sekarang sudah ada catatan seperti ini, dan catatan yg dibuat oleh blogger2 lain, sehingga penuturan kasusnya terlihat lebih berimbang. Lagi pula dengan perilakunya yang sekarang, rasanya sudah sedikit yang percaya dengan Ibu yang satu itu.

    [Reply]

    dusunkata Reply:

    Belum ada tanggapan dari Ibu Marissa Haque. Sepertinya bagi beliau menfitnah itu boleh, yang tidak boleh adalah difitnah.

    Salam takzim.

    [Reply]

  • risa83 says:

    Sy tdk tahu bgmn caranya agr kjdian mgubah komentar ini tdk terulangi lagi, tp sy sangat stju jika hal ini d berikan sangsi efek jera & peringatan bagi si pengubah dan bagi yg lain, yg bniat (atau sudah melakukan) hal yg sama. Terlihat, kecil (aplgi utk si pengubah) ttapi bs bdampak besar / bahaya bagi yg lainnya. Bgmna jika di lain waktu yg d ubah itu adalah isue sensitif yg mbahayakan orang banyak, fitnah yg maha besar /bahaya2 lain yg merugikan orang banyak. Ibu MH ini bs bwujud mjdi sp saja smau dia & slalu mrasa paling benar d atas sgalanya, pantang mengklarifikasi (aplgi minta maaf) krn dia adalah ‘terbenar / teraniyaya’ seperasaannya sndiri. Mata hatinya tertutup, logikanya terabaikan, kontrol emosinya sudah tlalu tlepas, apakah sudah tidak ada jalan mperbaiki keadaannya ? Trlampau tinggi ilmunya tidak tersalurkan, trlalu bnyk d hormati & d sanjungkan, akhirnya dia ‘gila hormat & sanjungan’ shingga tdk tahu lg bgmna cara menghormati dan menghargai yang lainnya.. Apakah bibit ‘fitnah’ seenaknya dan smudahnya ini akan kita biarkan.. ?? (Smoga, tidak)

    [Reply]

    Khrisna Pabichara Reply:

    Seperti saya tuturkan di atas, secara pribadi saya “menolak keras” tindakan yang dilakukan oleh Ibu MH ini. Akibatnya jelas, preseden buruk bagi dunia blog di Indonesia. Orang-orang–siapa pun–bisa menganggap pengubahan atau penyuntingan komentar blogger lain sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan tak ada sedikit pun bantahan, klarifikasi, atau jawaban dari Ibu MH. Akan tetapi, segalanya tentu kembali kepada teman-teman blogger, terutama yang diubah komentarnya.

    Salam takzim.

    [Reply]

  • suka sama gaya tulisan dan bahasa yang pemilik blog ini sajikan.

    Masalah MH, biarkanlah Tuhan dan dia yang tahu.. Capek juga lama kelamaan

    [Reply]

  • Sepertinya nyonya IF ini, sudah banyak dipengaruhi para politisi kita yang tak kenal malu mencitrakan diri, agar senantiasa tampil cerdas dan terhormat, dengan segala caranya yang penuh muslihat.

    Mudah mudahan beliau segera di sadarkan dari kesalahannya…

    [Reply]

  • Imelda hasibuan says:

    Satu kata: prihatin! She needs help!

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:' <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Copyright © 2011-2012 dusun kata All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.