Hujan, Tuhan, dan Gumam-gumam Tak Beraturan
1.
Hujan yang kaurindukan adalah keheningan
yang kutakutkan. Padanya, duka seringkali
mengeram lebih lama.
Hanya hujan, yang tumpah sesekali,
mempertemukan aku dengan bayangmu,
di senyap ingatan.
Di luar, hujan mulai reda. Di hatiku,
rindu menggerimis.
2.
Aku menyukai rindu, karena ia bisa kapan saja,
melesapkan kamu ke jantung anganku.
Seperti burung, rinduku tak pernah murung,
selalu tahu cara berbahagia, setiap senja tiba.
Seperti dugaanmu, rindu adalah gerimis
yang melebat tiba-tiba, sebelum akhirnya
ia pulas di pipiku.
Rinduku linang sepi, benciku lengang pinta.
Tumbuh-tegang di hatiku, sama-sama
menginginkan kehadiranmu.
Sungguh, aku memilih rindu,padanya luka dan cinta menyatu.
3.
Kita sepakat meninggalkan masa silam,
tapi kita suka diam-diam mengunjunginya.
Lewat hujan, lewat ingatan.
Kesedihan, yang kita biarkan berumah di mata,
adalah sekulum senyum yang disembunyikan jarak,
dan pelukan.
Sesungguhnya, kita adalah sepasang telinga.
Yang berjauhan, yang bersilangan.
4.
Jika Tuhanmu bisa mengabulkan harapan,
bisakah kau kenalkan Ia kepadaku?
Parung, November 2011








menggetarkan, mendebarkan. salam
Terima kasih, Semesta. Salam takzim.
rindu yang sedap
Tinggal ditambah kecap dan sambal, Om.
Salam rindu.
jlebbb…..
jlebb…..
Kangen Om Alvi, seketika.
ehehhehe… saya memang ngangenin *gaplok sendal
kapan koinsastra bergeliat lagi? rindu…
Hahaha. Om Alvi memang paling bisa. Menunggu masa bertapa usai, baru beraksi lagi.
Meski komentar apa saya? ;p
Oops, typo! Mesti ‘Mesti’, bukan ‘Meski’ ;D
Tak komentar pun tak apa, Om. Hehehe….
bagus tulisannya…makasih udah share ya,,,salam kenal slalu
Terima kasih berkenan singgah. Salam takzim.
sederhana, namun hebat. salam.
Saya menyukai kesederhanaan. #eh
Salam takzim.