Kami Menunggumu, Garuda Muda!

20 Nov 2011

Apa yang terjadi bila harapan menjadi kenyataan? Mungkin bahagia, mungkin pesta. Ya, terlalu lama kita berjauhan dengan medali emas. Sea Games 1991, terakhir kali kita meraihnya. Sesudahnya, medali emas selalu menjauh. Sekarang, selangkah lagi, mimpi dua puluh tahun itu bisa menjadi kenyataan.

Apa gerangan yang terbayang di benak Eddy Harto, Aji Santoso, atau Widodo C. Putro menyaksikan sepak terjang Garuda Muda? Mungkin seperti kegairahan seperti anak Ibu Pertiwi lainnya. Meskipun mereka melihat dari jarak lebih dekat, merasakan lebih dari sekadar yang terlihat, mengetahui sisi yang mungkin sangat rahasia. Mereka berada di dekat pemain: berbagi ilmu, berbagi semangat.

Apa jadinya bila pelatih kepala Garuda Muda bukan Rahmad Darmawan? Mungkin hasilnya lebih baik, mungkin juga lebih terpuruk. Secara pribadi, saya salut pada daya asuh RD. Pemain tampil lebih trengginas, amat liat, dan terus bergerak. Bagaimanapun, pengalaman melatih banyak klub menjadi bekal yang amat berharga baginya. Lihatlah, di tangannya, mutiara-mutiara dari Papua begitu berkilau. Dan, pemain lain pun berani menyuguhkan yang terbaik.

Malam ini, tiga pertanyaan di atas bergelayut di benak saya. Kisah perjuangan Garuda Muda memang adalah rantai cerita yang penuh bunga. Apalagi setelah timnas senior terpuruk di peringkat buncit babak ketiga kualifikasi Piala Dunia Brasil 2014.

Harapan kita, kini, semuanya bertumpu pada kepakan sayap Garuda Muda. Aksi heroik sepanjang pertandingan melawan Vietnam laksana pertarungan hidup-mati yang sangat dijiwai. Barangkali hanya Kunia Meiga satu-satunya pemain yang bermain agak santaitentu ini buah dari apiknya kerja sama pemain bertahankarena jarang ada tembakan mengerikan yang mengarah ke gawangnya.

Titus Bonai menunjukkan kebolehannya: tusukan, tarian, dan tendangan yang ia sajikan adalah kilau mutiara. Patrich Wanggai memang jarang menari tapi ia seorang perintis, pembuka jalan menuju pintu kemenangan. Oktovianus Maniani seolah tak kenal letihlari, terus berlaridengan sentuhan yang selalu merepotkan lawan. Andik Vermansyah tampil memikat, melesat bak kijang, bertahan bagai banteng.

Egi Melgiansyah bagai kehilangan rasa takut; walaupun berkali-kali ditebas, ia tetap berdiri dan berlari. Mahadirga Lasut seolah punya paru-paru bertenaga raksasa, jadilah ia gelandang yang tak berhenti menggelinding. Diego Michels, malam ini, tampil lebih baik dari partai-partai sebelumnya, ia menyerang dan bertahan sama baiknya. Hasim Kipuw cenderung menjaga tembok pertahanan, hanya sesekali ia lewati garis tengah lapangan.

Abdul Rahman, dengan tinggi badan menjulang, tampil bak tembok penghalang yang sukar dilewati pemain lawan. Gunawan Dwi Cahyo pun demikian, ia bermain dengan tenang menjaga pertahanan. Sepasang menara kembar inilah yang membuat pekerjaan Kurnia Meiga menjadi lebih mudah. Penyelamatan gemilangnya bisa dihitung jari, tapi gawang yang perawan adalah jaminan ketenangan.

Garuda Muda telah bangkit? Betul. Kekalahan dari Malaysia di laga sebelumnya tak membuat pemain patah arang. Masih ada babak final, tutur Rahmad Darmawan. Itu juga betul. Sangat betul, malah. Lawan terakhir menuju tangga juara sudah menunggu, Malaysia. Buang jauh-jauh perang politik antara negeri kita dan negara tetangga itu. Tampil lepas, lebih lengas. Itu saja!

Andai kata semangat juang yang ditunjukkan pemain nanti pada laga terakhir sama seperti yang dipertontonkan malam ini, medali emas bisa jadi milik kita. Tidak memberi ruang lebih lapang bagi lawan, seperti pertunjukan malam ini, adalah taktik jitu yang layak diulang.

Garuda Muda, kalian lebih dari yang sekadar terlihat! Ini bukan puja-puji atau elusan yang membuai. Sebut saja tulisan sederhana ini sebagai kado cinta atas permainan indah yang kalian suguhkan malam ini.

Jadi, tabuh genderang lebih kencang. Kami menunggumu, Garuda Muda. []

@1bichara

Tulisan ini dianggit sebelum babak semifinal cabang sepak bola Sea Games 2011 antara Indonesia dan Vietnam.


TAGS Sea Games 2011 Garuda Muda Timnas U-23 Rahmad Darmawan Patrich Wanggai Titus Bonai Egi Melgiansyah Andik Vermansyah


-

Author

Follow Me