Garuda Muda: Mau Tersandung atau Menang?

19 Nov 2011

Bukan Cuma Melatih

Tak bisa dimungkiri, fungsi pelatih di antaranya adalah mengobarkan semangat. Setelah meracik strategi, menelisik kekuatan dan kelemahan lawan, kemampuan menyuntikkan semangat niscaya dilakukan oleh setiap pelatih sepak bola. Apalagi ketika menghadapi pertarungan genting.

Memang, setelah berada di atas lapangan, pemainlah yang paling menentukan. Pelatih, di tepi lapangan, hanya bisa sesekali berteriak-teriak atau memberikan isyarat. Kadang dengan gaya meledak-ledak seperti tingkah Jose Mourinho, atau dengan gaya tenang seperti Fabio Capello.Tentu saja, sambil membaca taktik apa lagi yang akan dilakukan setelah turun main.

Jadi, jelaslah, pelatih juga adalah teman pembakar semangat bagi para pemainnya.

Kalahkan Vietnam

Sejarah mencatat, Vietnam bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Tapi, bukan berarti tidak bisa dikalahkan. Pada babak penyisihan cabang sepak bola pada Sea Games 1991 di Manila, Indonesia menundukkan Vietnam dengan skor 1:0. Waktu itu, gol disarangkan oleh Robby Darwis. Indonesia akhirnya sukses menyabet medali emas setelah pada laga final menaklukkan Thailand lewat adu penalti.

Uniknya, sejak itu pula Vietnam menjadi lawan sepadan. Pada Sea Games 1999, timnas kita takluk di babak semifinal setelah gol Nguyen Hon Son merobek jala Indonesia. Sebelumnya, Thailand kerap menjadi batu sandungan bagi timnas kita. Meskipun demikian, rekor masih milik kita. Empat kali menang, satu kali imbang, dan tiga kali kalah adalah catatan menarik yang mewarnai persaingan Indonesia dan Vietnam sepanjang perhelatan Sea Games. Uniknya lagi, emas di Manila itu ternyata raihan terakhir timnas kita.

Apa pun fakta yang ditunjukkan oleh sejarah, tahun ini adalah peluang terbaik bagi kita untuk kembali mengumandangkan Indonesia Raya. Setelah era Ferryl Raymond Hattu itu, kita sudah menunggu sangat lama.

Dua puluh tahun, bukan waktu yang singkat.

Dulu, 1991, Anatali Polosinpelatih timnas waktu ituberhasil mengantar anak asuhnya meraih medali emas yang paling didamba-dambakan itu. Kini, 2011, kita berharap, polesan Rahmad Darmawan mampu menyuguhkan kebahagiaan yang sama. Dulu, Widodo membuat rakyat Indonesia tersenyum bangga. Sekarang, semoga Titus Bonai menghadirkan hal yang sama.

Syaratnya, tentu saja, kalahkan Vietnam.

Rahmad Darmawan dan Bumbunya

Menyerang dari awal, tutur Rahmad Darmawan menanggapi kekuatan Vietnam. Dan, kita tidak boleh lengah. Kebobolan di menit-menit awal bisa membuat semangat pemain melorot. Jangan lupa, Vietnam juga punya napas kuda yang pantang menyerah. Ketika mereka tertinggal 0:1 dari Laos, mereka berhasil membalikkan keadaan, menang dengan skor akhir 3:1.

Sebagai pelatih, Rahmad Darmawan pasti sudah mengantongi taktik guna meredam keliatan dan kegesitan pemain Vietnam. Rahman, Egi, dan Patrich yang diistirahatkan pada laga terakhir, pasti memiliki tenaga berlebih untuk menggalang pertahanan dan serangan. Begitu pun dengan Kurnia di bawah mistar gawang, tenaganya pulih setelah tak diturunkan pada laga melawan Malaysia.

Setiap pelatih punya bumbu rahasia. Rinus Michel tenar dengan tingkat disiplin yang tinggi. Fabio Capello terkenal dingin dan gahar. Bora Milutinovic, yang menangani beberapa timnas berbeda, ditengarai jago membakar semangat. Luis Aragones piawai menelaah kekuatan lawan. Sementara itu, Falko Gotz, yang kini menangani Vietnam, konon selalu menuntut agar pemainnya tampil sempurna. Semoga hari ini, Rahmad Darmawan mampu membakar semangat anak asuhnya.

Dua puluh tahun menunggu, jangan mau tersandung lagi. Waktunya menang, Anak Muda! []

@1bichara
Tulisan ini dianggit sebelum babak semifinal cabang sepak bola Sea Games 2011 antara Indonesia dan Vietnam.


TAGS Sea Games 2011 Timnas U-23 Rahmad Darmawan Patrich Wanggai Malaysia Titus Bonai Vietnam Jose Mourinho Fabio Capello Ferryl Hattu


-

Author

Follow Me