Garuda Muda: Timnas Malaysia Itu Biasa-biasa Saja

17 Nov 2011

(1)

Sepak bola memang bukan sekadar kepiawaian menggocek atau menggelontorkan bola ke gawang lawan. Sepak bola adalah orkestra, hiburan berkelas yang berpotensi menyenangkan dan menenangkan hati penonton. Karena itu, pemain sepak bola ialah juga penyuguh hiburan: pemain orkestra. Tapi, masyarakat pecinta sepak bola juga merindukan prestasi. Lazimnya, prestasi itu lahir dari kemenangan demi kemenangan, yang akhirnya bermuara pada gelar juara.

Belanda selalu dilimpahi pemain bola yang andal dan hebat. Dengan total football yang rancak, Belanda juga penghibur sejati yang mampu menyihir hati penonton. Tapi, tahun 1974, permainan indah Cruyff dkk. ditaklukkan oleh mesin trengginas, Jerman. Empat tahun kemudian, 1978, Belanda bermain tak kalah hebatnya. Namun yang juara ternyata Argentina. Tahun 1998 lebih mengenaskan lagi. Setelah bermain indah sepanjang kualifikasi dan penyisihan grup, Belanda ditundukkan oleh Brasil pada babak semifinal lewat tragedi adu penalti. Bahkan mereka hanya berhasil meraih gelar juara empat, setelah pada perebutan tempat ketiga mereka menyerah pada Kroasia, 1-2. Dan, 2010 adalah puncaknya, ketika Belanda akhirnya mengakui keunggulan Spanyol.

Perancis mengalami nasib yang berbeda. Gocekan maut Zidane adalah sihir yang selalu ditunggu penggila bola pada Piala Dunia 1998. Sebagai tuan rumah, Perancis berhasil melaju ke final dan harus berhadapan dengan Brasil, pengoleksi gelar juara dunia paling banyak. Zidane, Thuram, dan anak asuh Jacquet lainnya berhasil mewujudkan mimpi rakyat Perancis, meraih gelar juara dunia untuk kali pertama.

(2)

Lupakanlah perih yang tersisa dari kegagalan timnas kita melangkah lebih jauh pada babak kualifikasi Piala Dunia Brasil 2014. Mereka telah berlaga dan memberikan apa yang mereka miliki. Boleh jadi, timnas kita memang tak mampu mewujudkan harapan kita. Sepak bola tetap sebuah permainan dengan risiko kalah atau menang. Kemenangan tak perlu dirayakan secara berlebihan, kekalahan pun tak harus ditangisi berlarut-larut. Kegagalan akan lebih bermakna bila kita bisa memetik pelajaran berharga darinya, dan mengasah diri lebih gigih lagi. Itu saja!

Sekarang, kita punya mimpi baru: Garuda Muda. Pejuang-pejuang tangguh polesan Rahmad Darmawan itu kini sedang menapak undakan awal menuju negeri harapan: negeri para juara. Jika Egi dan kawan-kawan berhasil menaklukkan Malaysia, juara grup berada di tangan. Terlepas siapa pun tim yang akan kita hadapi di babak semifinal, kemenangan melawan Malaysia adalah anugerah indah bagi masyarakat pecinta Garuda Muda.

(3)

Sewaktu menantang Jerman pada perempat final Piala Dunia Perancis 1998, tak banyak yang menjagokan Kroasia. Davor Suker dan rekan-rekannya seperti tim semenjana yang akan bertarung melawan tim pelanggan gelar juara dunia, Jerman. Tetapi, sepak bola memang bukan perhitungan matematika yang mudah dikalkulasi. Kroasia bermain dengan daya juang tinggi, menaklukkan Jerman yang juga bermain bagus.

Bermain dengan hati, begitu prinsip yang diyakini pemain-pemain Kamerun ketika takdir mempertemukan mereka dengan Argentinasang juara bertahanpada pertandingan pertama Piala Dunia Italia 1990. Tak ada orang yang meragukan kemampuan Maradona, tak banyak pula yang berani menjagokan Kamerun. Tapi, takdir punya cara sendiri untuk memperlihatkan kenyataan. Gol Oman Biyik membuat rakyat Kamerun menari sampai pagi.

Malaysia bukanlah Jerman atau Argentina. Malaysia juga bukan Kroasia atau Kamerun. Timnas U-23 dari Negeri Jiran itu bermain biasa-biasa saja. Bahkan, pada beberapa sisi, pemain kita bermain lebih apik. Kecepatan dan kegigihan kita masih lebih mumpuni. Faktanya, Garuda Muda berhasil memenangi tiga laga awal, sementara Malaysia cuma mampu bermain seri melawan Singapura.

Maka, kemenangan melawan Malaysia bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal itu bisa dicapai oleh Titus Bonai dan kawan-kawan. Akan tetapi, kita tetap harus mawas diri. Kita masih berada di atas bumi.

Ayo, Garuda Muda!

@1bichara
Tulisan ini ditulis menjelang partai terakhir penyisihan Grup A Sepak Bola Sea Games 2011, antara Indonesia dan Malaysia.


TAGS Garuda Muda Timnas U-23 Rahmad Darmawan Zinedine Zidane Oman Biyik Kamerun Malaysia Argentina Maradona Jerman Perancis Kroasia Davor Suker Titus Bonai


-

Author

Follow Me