Garuda Muda: Sesuatu yang Tertunda

17 Nov 2011

(1)

Ada falsafah sepak bola yang diyakini keampuhannya oleh pelatih legendaris Jerman, Sepp Herberger. Menurut Herberger, keberhasilan dalam sepak bola ditentukan oleh tiga hal: sepertiga kebiasaan, sepertiga keberuntungan, dan sepertiga kebersamaan. Kebiasaan didapatkan melalui latihan. Keberuntungan terjadi di lapangan. Dan, kebersamaan dibina di luar keduanya. Hasilnya, Herberger mengantar Jerman meraih Piala Dunia 1954.

Pada pertandingan terakhir penyisihan Grup A, Garuda Muda menderita kekalahan pertama. Lawan yang mengalahkan mereka tak tanggung-tanggung, Malaysiamusuh bebuyutan yang juga juara bertahan. Yongki dan koleganya bermain dengan baik, meskipun belum sebaik penampilan mereka pada tiga laga awal. Kebiasaan bermain yang mereka dapatkan dari latihan, tidak terlalu tampak pada babak pertama, tetapi terlihat jelas pada babak kedua. Serangan mengalir tanpa henti, hanya sesekali Malaysia membalas dengan serangan balik yang mematikan.

Namun, hasil akhir tak seperti yang didambakan banyak pecinta Garuda Muda. Di sinilah letak keberuntungan itu. Ferdinand Sinaga, Titus Bonai, Okto Maniani, dan penggawa lainnya sudah menyuguhkan kemampuan mereka. Kelemahan mendasarsemisal salah umpan, kalah tarung di lapangan tengah, dan tusukan dari sayap yang kurang menggigitmampu ditutupi sepanjang babak kedua. Sayangnya, gawang Malaysia tak kunjung jebol.

Kebersamaan. Inilah yang harus tetap dijaga, dirawat, dan diasah oleh Rahmad Darmawan. Kekalahan melawan Malaysia bukan akhir segalanya. Masih ada kesempatan. Kekalahan itu jangan sampai memicu keretakan, saling menyalahkan, atau menumbuhkan ketidakpercayaan antarpemain. Peluang yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Vietnam, juara Grup B, sudah menunggu Garuda Muda di babak semifinal.

(2)

Tak ada penggila sepak bola ini yang tak mengenal talenta dahsyat yang punya kemampuan menggocek bola yang luar biasa: Si Kutu, Lionel Messi. Begitu pula dengan Ken Aguero, Carlos Tevez, Gonzalo Higuain, atau Angel De Maria. Kesejarahan dan kepiawaian Maradonasemasa menjadi pemaintak kalah tenarnya, meskipun kemampuannya menjadi pelatih tidak sehebat kemampuannya sebagai pemain. Tetapi, mimpi rakyat Argentina terhenti di tengah jalan. Pasukan muda Jerman mengempaskan mereka pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

Kegemilangan David Beckham di level klub bersama Manchester United juga tak kalah apiknya. Umpan silang yang ampuh dan tendangan bebas yang mematikan adalah senjata andalan yang membuat Beckham begitu dipuja para pendukung MU. Tetapi, nasib naas menimpa Beckham ketika ia termakan sentilan Diego Simeone, dan wasit mengusirnya ke luar lapangan. Hasilnya, Inggris dihentikan oleh Argentinamusuh bebuyutannyadi babak perdelapan final Piala Dunia Perancis 1998.

Sejak itu, Beckham menjadi musuh besar penggemar Inggris. Kesalahannya tak terlupakan, bahkan tak termaafkan. Messi mengalami nasib yang sama. Ia dituding bermain setengah hati oleh rakyat Argentina. Kecemerlangannya bersama Barcelonan tak bisa begitu saja menular ketika ia bermain untuk tim nasionalnya. Apakah keduanya terpuruk? Tidak! Beckham dan Messi berusaha melepaskan diri dari masa-masa buruk itu. Mereka bangkit!

Ketika sebuah tim kalah, pemainlah yang menjadi sasaran. Itu adalah hal yang lazim. Risiko seorang pemain bola, di luar kebintangan mereka, adalah tuntutan besar dari penggemarnya. Yongki, Titus, atau pemain Garuda Muda lainnya, harus bisa belajar dari pengalaman pemain-pemain seperti Beckham atau Messi.

Pengalaman, hingga saat ini, masih diyakini banyak orang sebagai guru yang terbaik.

(3)

Meminjam istilah Padi, kekalahan yang diderita oleh Garuda Muda adalah sesuatu yang tertunda, bukan akhir yang membuat pemain harus terus menerus bermuram durja.

Pelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan, pasti memiliki pertimbangan khusus sehingga yang ia turunkan pada partai itu adalah pemain pelapis yang jarang ia turunkan dari awal pertandingan. Mungkin menyimpan tenaga, mungkin hendak mengelabui Vietnam. Entahlah. Apa pun pertimbangannya, posisi kedua di Grup A memastikan Garuda Muda akan bertemu Vietnam pada babak semifinal.

Nah, pada babak ini, tak ada lagi yang perlu disimpan. Keterampilan individu, kerja sama pemain, atau strategi yang jitu menjadi niscaya. Kandas di babak semifinal berarti gagal meraih medali emas.

Sekali lagi, kekalahan melawan Malaysia harus dijadikan cermin agar tim harapan kita bisa tampil lebih baik melawan Vietnam. Rahmad tentulah bisa berkata kepada anak asuhnya, seperti yang pernah dilakukan oleh Herberger, Tetap semangat, Anak Muda! []

@1bichara
Tulisan ini dianggit setelah Indonesia kalah dari Malaysia, 0:1, dalam partai terakhir penyisihan Grup A Sepak Bola Sea Games 2011.


TAGS Sea Games 2011 Garuda Muda Timnas U-23 Rahmad Darmawan Argentina Maradona Lionel Messi David Bechkam Sepp Herberger Inggris


-

Author

Follow Me