Perempuan dari Masa Lalu

16 Nov 2011

Kisah imajinatif ini adalah bagian ketiga dari #RantaiCerita bertopik #Crot. Sebelum saya, @wkf2010 sudah memulai kisah ini di http://wongkamfung.boogoor.com/mendadak-crot.html dan @AbahZoer menulis bagian keduanya di http://abahzoer.blogdetik.com/2011/11/14/mendadak-crot-2/ Setelah saya, tulisan ini akan diteruskan oleh @erfanonalakiano, @rudigints, dan @mataharitimoer. Saya pikir, ada baiknya Anda baca dulu tautan di atas, lalu membaca tulisan ini.

Saya didaulat menjadi penulis ketiga. Pada mulanya, saya ingin menolak. Saya memang lebih suka menjadi penulis pertama agar leluasa menentukan sendiri alur, tokoh, dan latar cerita. Saya juga cenderung memilih sebagai penulis terakhir supaya saya berkuasa penuh menutup kisah. Tapi, ini tantangan!

Perempuan dari Masa Lalu
Khrisna Pabichara

(1)

Kenangan memang selalu bisa menghadirkan kejutan. Sungguh, Manov tak pernah menduga akan bertemu lagi dengan gurunya yang dulu telah membuatnya tergila-gila. Tak ayal lagi, benaknya segera memampang kejadian-kejadian sinting yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Waktu itu, dulu, semasa kelas dua di bangku sekolah menengah pertama, ia benar-benar menjadi tontonan teman-teman sekelasnya.

Betapa tidak, konsep surat yang tak pernah ia kirimdan tak ingin ia kirimterselip di dalam lembaran tugas mengarang. Tanpa ampun, guru bahasa Indonesia berparas ayu itu membaca isi suratnya dengan suara yang lantang. Berkali-kali mukanya berganti warna: memerah, memucat, memerah lagi, memucat lagi.

Nadira Utami, begitu nama guru jelita, tapi tak mengenal belas-kasihan, itu. Murid lain memanggilnya dengan sebutan Ibu Nadira. Cuma Manov seorang yang memanggilnya Ibu Utami. Entah mengapa, setiap menyebut nama gurunya itu, sesuatu yang asingsemacam perasaan ganjil entah dari mana atau karena apamenjalari sekujur tubuh Manov. Dan, ia akhirnya menyadari telah mencintai gurunya itu, diam-diam, dan berharap suatu ketika ia bisa menyebut namanya tanpa embel-embel Ibu atau Guru. Tapi, Sayang. Atau, Kekasih.

Sejak itu, Manov hanya membiarkan kepala dan hatinya diisi oleh satu perempuan, Ibu Utami. Tapi semua berbeda ketika surat yang tak pernah ia kirim itu telah menelanjangi dan mempermalukannya. Ia masih ingat, air mata tak cukup menutupi kemalangannya. Dari sepasang lubang hidungnya sesekali mengalir air yang membuat tawa teman-teman kelasnya menjadi-jadi.

Sejak itu pula, ia belajar memendam cintanya. Bahkan, diam-diam, menguburnya.

(2)

Alangkah! Serunya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang besar dan kasar. Ingin rasanya ia mengerut, mengecil, lalu menghilang seketika. Ingin rasanya ia dibekukan oleh waktu, mati seketika. Tapi, ia masih tetap berdiri seperentangan lengan saja di hadapan perempuan yang lama menguasai kepala dan hatinya itu. Tak ada seseorang pun yang bisa mengabaikan kenangan, kata Manov di dalam hati. Apalagi kenangan yang memalukan, katanya lagi.

Manov? seru Utami tak kalah kagetnya.

Manov mengangguk, merasakan gairah masa lalunya bangkit kembali, bercampur rasa jerih bakal dipermalukan lagi. Ia mencoba menarik napas, lama, untunglah tak ada ingus atau cairan memalukan yang bisa crot dengan tiba-tiba.

Ke mana saja? Lama sekali Tami memikirkanmu?

Tidak mungkin, sanggah Manov. Masih di dalam hati. Keberanian yang mahahebat beberapa detik lalu, telah menguap tak berbekas.

Kamu tidak percaya?

Suami Ibu bagaimana?

Utami tersenyum lembut sembari menepuk lengan Manov dengan pelan. Sangat pelan. Bukankah dulu kamu ingin menyebut namaku tanpa embel-embel Ibu atau Guru? tanyanya. Sekarang, kamu bisa memanggilku Sayang….

Atau, Kekasih? sergah Manov sambil mengangkat wajahnya.

Utami mengangguk. Manov nyaris melompat-lompat kegirangan. Matanya memejam. Dan, dalam sekejap, ia rasakan keningnya dikecup bibir Utami. Darahnya menggelegak. Tubuhnya bergetar menahan rasa haru tak terperi. Tiba-tiba memeluk Utami. Lama, lama sekali. Jika bisa, lebih lama dari selamanya. Tapi, rasa segan membuat ia berusaha membatasi hasratnya. Ia lepaskan pelukannya seraya terus memejamkan matanya. Saking bahagianya, begitu ia membuka mata, di depannya telah berdiri seorang lelaki berseragam polisi lengkap dengan tanda pangkat yang ia tak tahu apa namanya.

Ini Manov, murid saya yang paling nakal dulu, tutur Utami kepada lelaki berseragam polisi itu. Lalu, Ini Irfan Musyarfan, suamiku yang tak terbandingkan cintanya….

Dan, Manov tak mendengar lagi suara merdu itu. Ia memejamkan matanya, menulikan telinganya. Segalanya tampak serba hitam. Serba gelap. Benar-benar gelap!

(3)

Jantung Manov masih berdentum-dentum. Pandangannya masih nanar. Satu sosok hadir begitu saja di depan matanya. Sastrianing. Perasaan berdosa seketika mendentur-dentur hatinya. Ya, baru saja ia berselingkuh di dalam hati. Ya, baru saja ia membayangkan ada gadis selain Aning mau menjadi kekasih hatinya. Rasakan, kutuknya kepada diri sendiri. Mencintai memang mudah, mempertahankan cintalah yang tak pernah mudah. Lalu, ia menatap gadis itu lebih lekat. Bukan, bukan Aning.

Saya Mei, Kak, Meilani….

Manov seolah tak percaya. Tidak mungkin!

Apanya?

Kamu persis calon istri saya, tukas Manov dengan tegas.

Meilani tersenyum. Saya adiknya Kak Aning, Kak.

Ah, bohong! Selama ini Aning tak pernah cerita.

Panjang kisahnya, Kak. Bisakah kita bicara empat mata? tanya Meilani sambil melirik Aldo, teman Manov yang baru saja dikaruniai seorang putri, yang sedang asyik main zuma di dalam kios.

Manov segera menarik tangan Meilani ke depan sebuah toko yang sore itu sedang tutup. Meilani menarik napas dalam-dalam, air mukanya muram.

Manov tak bisa menahan diri. Ia mulai penasaran. Aning mana?

Masih di Tabanan, Kak.

Dia sehat-sehat saja, bukan?

Meilani mengerjap-ngerjapkan matanya. Begini…. Lalu, dia terdiam.

Bagaimana? cecar Manov.

Apakah Kak Manov sungguh-sungguh mencintai Kak Aning?

Bug! Dada Manov seperti dihantam sansak. Jangan-jangan Meilani melihat saya….

Kalau bisa, mulai sekarang, Kak Manov belajar melupakan Kak Aning….

Manov tersentak. Apa?

Ada seorang lelaki yang melamarnya. Ayah dan Ibu menerima lamaran itu.

Aning setuju? cecar Manov.

Meilani mengangguk pelan. Iya, Kak!

Manov merasa langit runtuh dan mengimpit tubuhnya. Ia berdiri tegak, mengusap-usap wajahnya, mengacak-acak rambutnya, meninju besi penutup toko berkali-kali, hingga ia tak sadar kepalan tangan kanannya sudah mengalirkan darah. Meilani menjauh, semakin menjauh. Orang-orang mulai berdatangan, menonton ulah Manov yang aneh.

Dan, kali ini, dunia benar-benar gelap!

(4)

Sastrianing tak dapat menyimpan duka hatinya. Dunianya seolah telah berubah muram. Matanya tak lagi bercahaya. Sudah satu minggu dia menunggu kedatangan pujaan hatinya, tapi Manov tak kunjung datang. Harapan yang telah dia bangun dengan susah payah, sirna hanya dalam satu perpisahan saja. Barangkali lelaki memang diciptakan lengkap dengan kebiasaan ingkar janji, pikirnya.

Hari pertama penantiannya dia lewati dengan mencoba menyabarkan hati. Mungkin toko dan bisnisnya sedang laris, hiburnya. Begitu juga pada hari kedua, ketiga, keempat, hingga hari inihari ketujuh. Kalau saja penantian ini semacam upacara kematian, ini adalah hari terakhir. Setelah ini, risalah duka baru akan dibacakan pada hari keempat puluh, keseratus, dan berlipat-lipat bilangan yang tidak ingin dia bayangkan.

Segera dia kemasi pakaian dan alat riasnya, dia jejalkan serampangan ke dalam tas dan kopornya. Ayah dan ibunya terkejut mendengar keberangkatannya yang sangat tiba-tiba, tapi mereka tidak berusaha menahan kepergiannya. Namun, dia terkejut ketika Meilani, adik perempuannya yang cantik, memintanya kembali ke dalam kamar.

Ada apa, Mei? tanya Aning tak dapat menahan diri.

Kakak kenal cowok ini? jawab Meilani sambil menghamparkan foto-foto di kasur.

Aning memungut beberapa foto, memandanginya dengan saksama, dan matanya berair. Dia bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Parung, November 2011
Bersambung ke blog @erfanonalakiano


TAGS khrisna pabichara Adi Purwanto Abah Zoer Matahari Timur Erfano Nalakiano Rudi Ginting


-

Author

Follow Me