[Puisi] Seseorang Bernama Cinta

12 Nov 2011

Semua orang pernah terjatuh,
tapi tak banyak yang mau mempelajari
mengapa mereka bisa terjatuh.

19 September 2011, 19.27

(1)

Pertemuan tak terduga. Secara tidak sengaja aku bertemu denganmu, Cinta. Waktu itu, di sebuah ruang lapangyang kita namai masa lalukamu baru saja menyeka air mata yang mengalir di pipimu. Seperti orang berduka, tergesa-gesa menyembunyikan kesedihan di matanya. Tetapi, matamu tak terlalu pandai bersandiwara.

Setelah itu, kamu bercerita tentang kasih tak sampai. Bukan kisah-kusut yang selama ini hanya aku temukan di dalam roman-roman pujangga lama. Ini kisah nyata, kisah yang benar-benar kamu alami. Katamu, adat memaksa kamu mengubur harapan dan keinginan untuk menikah dengan lelaki yang kamu dambakan.

Waktu itu, aku merasa sudah sangat mengenalmu. Kita seolah sudah pernah bertemu. Hanya saja aku lupa kapan dan di mana pertemuan itu terjadi. Barangkali di sajak-sajak penyair yang tak pernah selesai, atau di halaman belakang sebuah novel yang berakhir tak bahagia. Barangkali di lirik-lirik lagu yang mendentingkan sunyi di telingaku, atau di alun musik klasik yang kudengar semasa masih di rahim ibuku. Entahlah.

Lalu, kamu berujar tentang keinginanmu untuk mati muda. Jangan, kataku, mati bukan jalan indah untuk mengakhiri penderitaan. Mati, seperti air mata, hanya melegakan. Dan aku lihat amarah berkelebat di matamu. Aroma duka tercium begitu sengit. Barangkali kamu sedang menimbang-nimbang apa yang semestinya kamu lakukan. Entahlah.

Aku letih menjadi sarang luka, katamu. Ketahuilah, Cinta, tak ada seorang pun yang bisa meramal apa yang akan menimpa dirinya. Tidak kamu, tidak aku.

Tapi petaka tak pernah memberi jeda, katamu lagi. Kehilangan rindu. Itulah kata yang cocok kusematkan untukmu, hari itu. Kamu bagai malam yang kehilangan rembulan, bintang, dan kunang-kunang. Matamu muram, tak bercahaya. Atau, mungkin luka sudah melolosi tulang-tulang semangatmu.

Ketahuilah, Cinta, semua orang pernah jatuh, tapi tak banyak yang mau mempelajari mengapa mereka bisa jatuh, apalagi memerinci apa yang bisa mereka lakukan agar tidak terjatuh karena musabab yang sama, di tempat yang sama.

(2)

Jalan-jalan yang pernah kita lalui pastilah beragam. Ada yang berkerikil, ada yang berlubang. Ada yang semulus kulit bayi, barangkali, dan kita seringkali menjadi lebih lengah karenanya. Bukankah kita lebih waspada saat lewati jalan yang berkerikil atau berlubang?

Ketahuilah, Cinta, batas antara tuntutan dan ketulusan itu sangat tipis. Kadang berahi disahkan dengan mengatasnamakan cinta, dan penolakan kerap dimaknai tak benar-benar cinta. Sehingga perempuan seringkali lengkah karenanya. Padahal, kesejatian cinta tidak serta-merta mengabadi karena sentuhan berahi belaka.

O, tidak. Setiap yang melintas di benakku tak satu pun yang terlontar. Tak satu kalimat pun yang aku utarakan. Semuanya mengendap, melindap di senyap dada. Aku tak mau dicap menggurui, dianggap lebih pintar, atau merasa paling bisa. Meski begitu banyak yang ingin aku kemukakan.

(3)

Cinta, aku mengenalmu sebagai perempuan dengan mata yang selalu berkaca-kaca, tempat luka rimbun sebagai petaka. Sebenarnya, ingin sekali kusiangi sunyi di matamu. Atau, tenggelam dan lesap dalam geretak isakmu seraya menghitung seberapa dalam kelabu menghuni tubuhmu. Tetapi, kamu lebih suka mengabadikan risalah luka. Di hatimu, di rahimmu.

Cinta, aku tak ingin terus memanggilmu perempuan dengan mata yang selalu berkaca-kaca. Sesekali kamu harus bisa mengeja getar luka. Bukan sebagai denyut pemantik sendu, melainkan semata pembuka ingatan. Bukankah tidak semua harapan kita diperkenankan takdir menjadi kenyataan? Jadi, sudahlah! Tumpahkan saja semua dukamu di bahuku, sebelum luka makin rimbun. Di dadamu, di matamu.

Perpisahan tak terduga. Aku bertemu denganmu, sekali itu saja.

Bogor, September 2011


TAGS khrisna pabichara


-

Author

Follow Me