Telusur Tradisi Dahsyat Bersama Khrisna Pabichara

24 Oct 2011

Telusur Tradisi Dahsyat Bersama Khrisna Pabichara
Sumber: Harian Umum Galamedia, 10/3/2011

rkb-pro-7KHRISNA Pabichara adalah salah satu pengarang yang “solid” keterikatannya dengan kearifan lokal tanah leluhurnya, Makassar. Kebanyakan buah karyanya selalu mengusung bagian-bagian dari budaya Sulawesi Selatan. Hal itu terlihat dalam buah karyanya berupa buku kumpulan cerpen yang terbit dengan kover sangat eksotis bertajuk Mengawini Ibu.

Dalam Mengawini Ibu tersebut, kita seolah dipaksa untuk menelusuri jejak dahsyat adat tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. 12 cerpen yang terangkum dalam kumpulan tersebut demikian solid menjejak kisah yang terkait budaya Makassar itu. Kedua belas cerpen itu adalah Gadis Pakarena, Arajang, Mengawini Ibu, Rumah Panggung di Kaki Bukit, Haji Baso, Silariang, Ulu Badik Ulu Hati, Selasar, Lebang dan Hatinya, Hati Perempuan Sunyi, Riwayat Tiga Layar, dan Dilarang Mengarang Cerita di Hari Minggu.

Silariang, sebagai salah satu tradisi perkawinan di negeri ini, dianggap sebagai salah satu perbuatan yang menoreh siri’ dan pacce (aib) bagi kedua belah pihak. Silariang berbuntut dendam berkepanjangan dan baru akan dihentikan ketika si pelaku silariang itu dibunuh dengan badik. Cerpen “Silariang” menyampaikan hal itu dengan gamblang. Selain itu, budaya Sulawesi tidak mengenal dua jenis kelamin manusia melainkan lima jenis kelamin, yaitu yaitu: Oroane (laki-laki), Makunra’ (perempuan), Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki), Calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan), dan golongan Bissu, yang dipercaya masyarakat kepercayaan tradisional sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut. Kehidupan golongan Bissu yang diungkapkan dalam cerpen “Arajang” sangat unik. Ia bertindak sebagai pendeta yang mampu menjadi jembatan antara kehidupan manusia dan kehidupan kahyangan. Bissu sangat berperan dalam upacara ritual yang berkaitan dengan tahapan kehidupan manusia.

Kisah-kisah dahsyat lain mengangkat tingginya nilai senjata badik, senjata tradisional khas Makassar, dalam kehidupan masyarakat di kawasan itu. Beberapa cerpen memuat “peranan” badik tersebut, seperti cerpen “Silariang”, “Haji Baso”, “Arajang”, dan “Lebang dan Hatinya”. Sementara itu, cerpen-cerpen yang dimuat mengangkat tema keseharian, seperti kisah cinta ala Juliet dan Romeo, dendam kesumat, atau hubungan antaranggota keluarga dengan tidak mengesampingkan kuatnya pengaruh adat-tradisi Makassar di dalam setiap kisah.

Berdasarkan hasil pembacaan pada buku kumpulan cerpen itu, penulis mendapati adalah pergulatan batin sang pengarang antara berpijak dalam wilayah religi dan wilayah adat yang memiliki kekuatan yang sama. Pergulatan batin tersebut juga merupakan kritik sang pengarang atas apa yang menjadi risiko bagi para pemangku adat dan masyarakat yang terkena hukum adat itu. Hal itu terungkap sebuah kutipan goresan sang pengarang dalam cerpen “Pakarena” berikut: “Aku lebih memilih cinta daripada tradisi yang abai meletakkan manusia pada tempat yang sesungguhnya.

Asyik, gemas, gemetar, terharu bercampur aduk dalam pembacaan Mengawini Ibu itu.

(Resti Nurfaidah, peminat buku, tinggal di Bandung)**


TAGS Mengawini Ibu


-

Author

Follow Me