Mahkamah Rindu

13 Oct 2011

1

Setiap rinduku selalu menyertakan gemerincing
luka dan tawa. Yang samar, yang gahar.

Telah sering benar kukatakan, sehingga kamu
duga aku hanya berkelakar. Tidak, aku tahu
dari mana rindu ini bermula. Dari kamu.

Setiap rinduku selalu lahir dari gemeretak doa
dan impi. Yang sayat, yang larat.

2

Akhirnya sepi yang mengambil alih, kamu
menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh tidak
ada. Sedang aku, disesatkan labirin duka.

Seruntun duka, seperti dalam kisah-kisah purba,
terpelecat dari kegelisahan merindumu, kini raung
sepi yang tindih-menindih, yang silih-berganti.

Sepi, ialah tangan-tangan waktu, yang seketika
melumpuhkan doa. Hujan turun, kamu menjadi
sesuatu yang nyata, di dada malam.

Tetapi, simpanlah sangsimu itu. Biar kabut
dan air mata memastikan mana yang lebih
dulu lesap dan mengendap di hati, kita.

Parung, Oktober 2011


TAGS


-

Author

Follow Me