5

Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan

Posted by dusunkata on Apr 30, 2012 in Puisi

Seorang Jomblo dan Catatan Rindunya yang Berantakan


1.

Tak ada yang bisa benar-benar pergi dariku, kamu juga.

Ingatan akan mengembalikanmu pada ketulusan dan

ketabahan rinduku, selalu. Kamu tahu itu, Sayang.

2.

Waktu kamu sudahi hangat kebersamaan kita berminggu

lampau lewat perih selamat tinggal, aku selalu berusaha

melahirkan dan menghidupkan harapan, kendati itu semu.

3.

Yang terindah dari malam Minggu, Sayang, adalah

kesendirian. Padanya, kamu lebih dari sekadar bayang,

lebih dari sekadar lama.

4.

Dan, kamu tak kunjung pulang. Padahal hari dan hati

makin berantakan. Aih!

Bogor, 2012

Tags: , ,

 
10

Negeri Warnut [2]

Posted by dusunkata on Apr 26, 2012 in Cerpen

Kisah ini bagian dari #rantaicerita #3penguasa yang digelar Komunitas Bloger Bogor. Bagian pertama dianggit oleh @ontohod, sedangkan bagian ketiga akan dilanjutkan oleh @ErfanoNalakiano.

Negeri Warnut (Bagian Kedua)

Aku tak mengenali ruang kosong yang begitu lapang ini. Mungkin rahim sempit atau malah angkasa lapang. Mungkin juga segi empat yang bisa kita namai maut. Apa pun itu, aku telah berdiri di sini. Seorang diri. Ya, hanya aku. Barangkali kamu pernah mengalami hal serupa, tersesat ke negeri yang tak kamu kenali. Kemudian waktu sadar, kamu kebingungan menerka-nerka di negeri mana gerangan kamu berada, mengutuk diri sendiri karena tak mengenali satu pun, entah benda atau ruang atau apa saja. Seperti itulah aku sekarang.

Tak ada matahari. Aneh. Tapi dari mana cahaya itu bermula? Semula kupikir ada listrik di sini, seperti di duniaku sebelumnya yang tatkala malam tiba segala tetap benderang karena listrik. Namun setelah memicingkan mata, mengawaskan pandangan, cahaya itu tak berasal dari sebuah bohlam. Belum lagi reda keanehan yang mendentur-dentur kesadaranku, seketika ingatan terpacak pada sosok yang tiba-tiba saja lenyap. Deil. Ya, ke mana Deil? Apakah penduduk di negeri asing ini punya ilmu lenyap yang sekonyong-konyong bisa hilang dari pandangan? Betapa ganjil.

Dulu, dulu sekali, dalam sebuah tidur yang lelap, aku pernah tersesat ke dunia asing. Tetapi tak seasing sekarang. Di sini, segala yang ada seperti lahir dari sepasang tangan perupa yang menghidupkan sesuatu dari roh cinta. Pohon-pohon dari kertas, rumah-rumah dari kertas, makhluk-makhluk dari kertas. Aku butuh seseorang yang bisa menyelamatkanku dari labirin pikiran menyesatkan ini. Bagaimana bisa manusialebih tepatnya boneka kertasberjinjit, berjalan, atau berlarian bak manusia di duniaku yang dulu?

Sayang, Deil tak kunjung datang.

Aku terus berjalan, meninggalkan bunyi keretas setiap kaki menapak di jalan yang juga, sepertinya, terbuat dari kertas. Aku begitu berhati-hati, takut jeblos dan terlempar ke tempat yang lebih asing. Manusia-manusia kertas yang tak seberapa jauh dariku itu berdiri menatapku dengan tatapan yang menakutkan, seperti orang-orang yang terusik melihat kedatangan orang tak dikenal, aku. Mereka tak bersuara. Hanya menatapku lekat-lekat tanpa kedipan mata. Lekat sekali. Mata mereka yang lebar terlihat nanar. Aku mendekat. Mereka berpandangan, dan dalam waktu singkat berbalik lalu menghilang ke dalam rumah.

Aku tercekat, dadaku sesak. Pintu rumah kertas itu sekarang tertutup rapat. Aku mendengar gumam-gumam ganjil dari balik pintu itu.

Buka saja pintunya!

Jangan!

Iya, jangan dibuka….

Kenapa?

Dia orang asing. Matanya api!

Aku bergerak lebih mendekat. Gumam-gumam itu senyap. Tapi telingaku dapat menangkap dengan jelas hela napas orang-orang yang ketakutan.

Tutup jendela!

Desisan itu seperti petir di kupingku. Setengah berlari aku datangi jendela yang masih tersingkap. Jendela itu berjeruji. Aku pegang jeruji jendela itu, melongok ke dalam, dan jantungku berdegup lebih cepat ketika sepasang mata tiba-tiba menatapku dengan tajam dan sesuatu yang lembut menimpa jemariku. Mata itu menghilang.

Menjauh dari jendela!

Seseorang terdengar mendengus. Dia orang baik.

Dari mana kamu tahu? sanggah yang lain.

Matanya, matanya.

Jangan mudah percaya pada orang asing.

Ingin rasanya aku berteriak kencang membantah kecurigaan manusia-manusia kertas itu, setidaknya mengatakan aku hanya ingin tahu ini negeri apa atau kalian tak perlu cemas, aku tak bermaksud jahat atau apa saja yang bisa menenangkan mereka. Tapi lidahku kelu, tenggorokanku kering. Aku menahan napas sampai-sampai dada dan perutku seakan meledak.

Dia sudah pergi….

Belum, bantah yang lain. Orang asing itu sedang menunggu. Kita tak boleh lengah.

Kenapa kalian takut?

Matanya api! tukas yang lain dengan serempak.

Aku tak dapat menahan diri lagi. Aku harus menjelaskan kepada mereka soal siapa aku dan mengapa aku tersesat di negeri warnut ini. Ah, Deil, harusnya kamu masih ada. Aku gedor-gedor dinding rumah, tapi tak ada suara. Anehnya, dinding itu tertekuk, melekuk, setiap kepalan tangan aatau telapakku menyentuhnya. Meski begitu, dinding itu tak koyak.

Lihat! Dia akan menghancurkan rumah kita!

Tenang, ujar yang lain, dia tidak tahu rahasia rumah kita.

Katamu, dengus seseorang dengan lirih, matanya api?

Jangan-jangan….

Lalu suara-suara itu menghilang lagi. Mataku api? Aku tak mengerti. Kali ini amarahku meluap. Aku harus berbicara dengan mereka tanpa terhalang dinding kertas yang menyebalkan ini. Kepalan tanganku segera menghantam dinding, tapi, seperti tadi, dinding rumah kertas itu tak koyak. Amarahku membuat darah mengalir ke kepala. Mataku berair. Aku menangis? Aneh, jarang aku menangis ketika sedang terdesak. Tapi, aku merasaku pipiku basah. Lantas kuseka pipiku, dan hatiku tercekat begitu melihat tanganku penuh darah.

Jangan menangis….

Aku menoleh ke samping, Deil berlari ke arahku. Bukan berlari. Dia seperti bola kertas raksasa, menggelinding.

Jangan menangis, serunya lagi. Air matamu api….

Aku menatap telapak tanganku. Darah di permukaannya tiba-tiba menyala. Lidah-lidah api meliuk-liuk ditiup angin. Aku tersentak. Serta-merta aku menggosok-gosokkan telapak tanganku ke dinding rumah, berharap dengan begitu api itu akan padam. Tetapi yang terjadi, oh … rumah itu terbakar. Orang-orang di dalam rumah sontak berlarian, menghambur ke luar rumah. Tubuh mereka terbakar. []

Bogor, 2012


Tags: , ,

 
16

Berpotong-potong Kenang di Makalehi

Posted by dusunkata on Apr 23, 2012 in Cerpen

Ini adalah tulisan pertama Grup 14 dari Cerita Berantai bertagar #3Penguasa yang digelar oleh Blogor (komunitas blogger Bogor). Tulisan kedua akan dibuat @ErfanoNalakiano, sedangkan yang ketiga  

BERPOTONG-POTONG KENANG DI MAKALEHI

Oleh Khrisna Pabichara

[1]

Lelaki-lelaki bermata beringas itu merubuhkan pagar, mendobrak pintu, dan melantingkan palang besi atau balok panjang di segala benda yang ada. Ayahku mengerut di pintu kamar tidurnya yang hancur berantakan. Ibuku gemetaran di sisinya, rok satinnya basah. Aku yakin ibuku sangat ketakutan. Aku berdiri, nanar, tak tahu apa yang mesti kulakukan. Tak ada lagi waktu untuk melarikan diri. Sia-sia juga berteriak meminta pertolongan, bahkan kepada Tuhan sekalipun. Boleh jadi, pada saat sebalau ini, Tuhan sedang ripuh menyaksikan orang-orang kalap berbuat semaunya. Senja yang mengerikan. Rahimku, ya, rahimku, dipaksa peristiwa menampung berbagai aroma sperma. Bahkan, aku tak menyadari mereka telah pergi karena perih tak tepermanai di hati melebihi luka menganga di kelangkangku.

Kelak, aku tahu, Makassar memang berdarah di siang itu, seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Nusantara. Kelak, petaka senja itu begitu benderang di tiap kenang, menyelinapkan dan menginapkan perih di tiap ingatan.

Sebenarnya, sejak itu, aku telah mati.

[2]

Dulu, dulu sekali, aku takut pada laut karena laut selalu mengingatkanku pada maut, selalu mengungkit ingatan dan memampang kembali masa ketika lelaki-lelaki berwajah sangar itu berlomba menggagahiku. Hingga kamu datang mengajakku bertahan dan aku, karena kamu, memilih bertahan. Kamu menantangku menunggui senja di tepian Losari. Setahuku, kamulah satu-satunya putra Makalehipulau terluar di bagian utara Pulau Sulawesiyang menimba ilmu di Makassar dan sangat setia menemani para tumbal-tumbal perubahan. Mereka berpesta-pora menikmati reformasi, sementara aku menjelma perempuan murung yang rajin memerah perih di tiap senja. Lupakan saja, katamu, kesedihan takkan mampu memulangkan segala yang telah pergi.

O, ya, percakapan kita, dulu, beberapa tahun setelah peristiwa berdarah itu, memaksa aku untuk selalu berharap akan ada lagi percakapan menggelitik sesudahnya. Andai saja kita tak menyelipkan cinta di sela-sela percakapan itu, mungkin kita masih di sini, di Losari, menunggu senja tiba sebelum malam merenggutnya dari pandangan kita. Tapi, kamu memilih raib, lesap ke pedalaman misteri. Barangkali hardikan ayah dan sikap sinis keluargaku telah menciutkan nyalimu atau malahan menyakiti hatimu. Kamu menghilang begitu saja. Membawa kenangan, membawa hatiku.

Sejatinya, aku tak perlu bertahan hidup lagi.

[3]

Kamu suka senja?

Tidak!

Apa gunanya setiap sore kamu duduk termangu, di sini, memandangi senja?

Hehehe….

Malah tertawa. O, aku tahu, biasanya perempuan suka senja.

Aku suka menyendiri.

Di saat senja?

Senja lagi!

Kamu tahu Makalehi?

Apa itu?

Rumah bagi beribu ikan, surga bagi para penyelam.

Rumah?

Maksudku, pulau.

Di mana?

Di lingkar Laut Sulawesi. Barisan kelapa dan pandan, pesona terumbu karang, danau kawah bertangkup teratai, dan Gua Tengkorak di Bukit Larangan.

Itu saja?

Ada padang lamun di dasarnya.

Padang lamun? Apa itu?

Semacam padang rumput, tapi di dasar laut.

Menarik!

Itu saja?

Di sana ada senja?

Ada. Senja paling senja!

Aku tak suka senja.

Sesungguhnya, sejak itu, aku seolah dilahirkan kembali.

[4]

Tak perlu bertanya kenapa akhirnya aku sambangi juga pulau kelahiranmu, pulau yang hanya bisa ditempuh dengan perahu kayu selama delapan jam dari Manado. Namun, begitu mataku tertumbuk pada pantai terjal yang langsung berhadapan dengan laut lepas, segala letih melesap. Mestinya aku berterima kasih kepadamu karena kabar tentang pulau ini memang benarlah adanya dan dari kamulah asalnya. Hanya saja, aku takkan berterima kasih kepadamu. Kamu tahu kenapa? Karena kamu pergi begitu saja, tanpa selenting pun kabar.

Di sini, di Makalehi, aku benamkan luka.

Inilah Makalehi. Masih seperti dulu. Danau kawah, padang lamun, dan ikan-ikan berloncatan di permukaan laut. Senja di Makalehi pun masih sama, masih senyap. Yang berbeda semata karena kamu tak lagi di sini, di sisiku, menghitung butir-butir pasir.

Angin senja bergerak tunak dari arah barat laut. Lagi-lagi aku didesak ingatan. Lupakan saja, katamu. Anehnya, aku tak pernah bisa. Aku selalu ingin tahu bagaimana kabarmu, setidaknya tahu di mana kini kamu bermukim. Ketahuilah, Togu, aku tak mampu bertahan. Aku tak bisa menghapus seluruh ingatan tentangmu. Jadi, kubiarkan saja ingatan itu tumbuh bersama rindu, di hatiku.

Katamu, dulu, tak semua yang pahit itu wajib dilupakan. Katamu lagi, banyak peristiwa yang tak perlu kita pertanyakan kenapa dan bagaimana ia terjadi, karena kita hanya pelakon yang ditugaskan merawat ketakutan dan kecemasan. Duh, Togu, aku tak kunjung paham mengapa perbedaan fisik dan keyakinan membuat kita seolah hidup di negeri terbelah, negeri tertulah. Karena itu, kumohon agar kamu tak memintaku untuk melupakanmu. Bagiku, rindu tak mengenal tepi.

Sore ini, aku menunggumu bertutur tentang senja atau laut atau legenda atau apa saja. Aku ingat, kamu paling suka kisah-kisah tentang lelaki-lelaki setia, apalagi kisah Titus atau Datu Museng. Karena cinta, katamu. Aku juga ingat, kamu paling suka bergumam tentang Tuhan dan takdir-Nya yang tak bisa diganggu gugat. Setiap kamu bercerita, aku memilih jadi pendengar setia, yang sesekali merengut atau tersipu.

Kini, anganku mengembara menembus segala batas. Terpampang lagi tragedi yang akhirnya memaksamu menjauh dariku: sejarah penggagahan yang setiap babaknya selalu memilukan. Saat itu, kamu dan keluargamu bertandang ke rumahku untuk meminangku. Belum lagi khatam kamu berkata, ayahku sudah menukas dengan sengit.

Tidak! kata ayahku, bagaimana bisa aku menyerahkan putriku pada kalian yang dulu telah mengoyak-ngoyak kehormatannya!

Aku tahu, saat itu kamu marah, kedut liar di pipimu ialah bukti.

Namun, kamu memang anak laut yang tunai membaca badai. Dadamu, selega laut yang tabah menelan segala. Alih-alih meruapkan amarah, kamu malah bertutur dengan santun bahwa kamu, sesungguhnya, tak ada hubungannya dengan masa laluku.

Memang, arah nasib tak pernah sanggup kita ubah.

Aku tahu hatimu terluka. Sama, Togu, sama, hatiku juga terluka. Dan, kita tak perlu bertanya luka siapa yang paling perih.

Setelahnya, aku bersedia mati, untukmu!

[5]

Usiaku waktu itu baru saja melewati dua puluh satu tahun. Sudah waktunya memiliki kekasih. Itu sebabnya aku selalu ingin berada di dekatmu, menemanimu memandangi laut dan senja. Aku pun selalu ingin menikmati keredip matamu dari jarak sejengkalbahkan, andai kata bisa, lebih dekat dari itudan berusaha menahan geletar ganjil di dada. Sayang, nasib memilih alur lain yang tak pernah kukehendaki. Bayangkan, aku ditelantarkan oleh takdir tepat ketika umurku dua puluh dua tahun.

Tapi, ah, kamu! Bukan kamu, akulah yang tak berdaya. Aku takut tak ada lagi ruang lapang yang tersisa di hatimu bagi gadis sisa sepertiku. Ya, kepengecutan seolah ditakdirkan menjadi teman sejatiku, menghantui kapan saja aku berniat menyapamu. Diam-diam, aku hanya memandangimu dari jauh. Aku memang pengecut, Togu. Aku….

Bukan, bukan karena hasrat memilikimu maka aku berlari mendekatimu!

Kita berbeda, sangat berbeda! katamu.

Apanya?

Segalanya!

Bukan karena aku…?

Bukan!

Tapi kita saling mencintai.

Kamu terdiam. Menatapku sangat lekat. Kamu suka laut?

Tidak!

Kenapa? Karena peristiwa mengerikan itu?

Sesuatu bergerak-gerak di mataku, aku tidak yakin bakal sanggup menahannya.

Maaf, katamu sambil mengelus rambutku, dan, ah, kaukecup keningku dengan lembut, sangat lembut. Kamu harus bertahan, Lin. Hidupmu tak selesai hanya karena peristiwa kelam senja itu! Lagi pula, kerabatmu enggan berbagi tempat denganku.

Lalu, kuremas jemarimu, berharap semoga ketabahanmu mengalir dan mengalur ke hatiku.

Kamu ingat kisah Benerice atau Maipa? tanyamu.

Aku mengangguk.

Bisakah kamu lebih kuat dari Benerice atau Maipa?

Tidak mungkin! Aku bukan Benerice atau Maipa. Aku akan tetap menunggumu di persilangan cemas dan harap.

Tak ada yang perlu kita cemaskan, katamu.

Seperti tak ada lagi yang bisa kita harapkan?

Laut memang jauh lebih siap menerima perbedaan daripada manusia. Ia tak menanyakan jenis ikan atau makhluk apa saja yang bermain-main di rahimnya. Ia tak membedakan kerang dan mutiara, karang dan padang lamun, bahkan ombak dan riak.

Itu sebabnya kamu suka laut? tanyaku.

Ya!

Sebenarnya, saat itu, aku ingin mati dalam pelukanmu.

[6]

Kutulis kisah ini bukan karena berharap kamu mau kembali. Memang, sesekali aku ingin mengajakmu bertualang ke masa silam, semacam tapak tilas, yang darinya kamu dan aku lebih leluasa menerawang masa datang. Mungkin juga mengeja masa lalu, seperti Titus mengenang Benerice atau Datu Museng merindui Maipa Deapati. Lalu kita berlomba menyelam ke dasar tasik, memetik butir-butir air mata, melenggang di sela jari-jari ganggang, membenamkan perih yang tak tertanggungkan.

Aku sudah di pulau ini, Togu. Menunggui senja, menunggui kamu. Lihat, matahari mengintip dari balik arakan awan. Lihat, ikan-ikan begitu riang berlompatan ke sana-sini. Nun jauh di ujung timur Makalehi, Gua Tengkorak dan Bukit Larangan memanggil-manggil kita. Togu, malam belum tiba, tapi kamudi pucuk pandangkusudah terbang rendah dengan sayap peri berenda sepi. Aku berhitung dalam hati sebelum akhirnya kuputuskan untuk berlari mengejarmu, mendekapmu.

Tapi, ah, kamu!

[7]

Inilah Makalehi. Dulu, Togu, kamu pernah bercerita kepadaku tentang kupu-kupu dan terumbu karang. Kamu bohong. Tak ada kupu-kupu, Togu, hanya ada karang. Juga jejak kenangan. Silakan hapus jejak kenangan itu di hatimu, aku tidak! Bagiku, kenangan itu abadi. Kamu masih ingat Gua Tengkorak? Di sana, pertama kali kita rasakan betapa ciuman itu membakar, mengeringkan dan mengarangkan air mata. Di gua itu pula kamu peluk tubuhku: selekat Datu Museng yang enggan melepas Maipa Deapati, selesap Titus di rengkuh Benerice.

Tapi, ini bukan Makassar atau Yerusalem, Togu, ini Makalehi. Yang asing!

Bogor, 2012

Tags: , ,

 
31

Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat

Posted by dusunkata on Jan 13, 2012 in Esai

Ketika menganggit tulisan ini, saya sedang menikmati lengking harapan Iwan Fals. Ya, dari sisi mana pun, wakil rakyat seharusnya merakyat. Dalam hal ini, kata merakyat bisa dimaknai menjadi rakyat. Artinya, anggota DPR bekerja dengan menggunakan mata, telinga, dan hati rakyat. Faktanya, saat ini banyak yang lebih sering memartai ketimbang merakyat. Selain itu, merakyat bisa juga berarti:berbaur dengan rakyat. Sederhananya, ada di tengah-tengah rakyat atau hadir ketika rakyat membutuhkan keberadaan mereka.

Apa yang terjadi hari ini? Kita seolah sedang berada di negeri entah. Sewaktu banyak rakyat tak bisa melepas hajat di jamban yang memenuhi syarat, beberapa wakilnya malah mengeluhkan jamban di rumah rakyat yang sungguh megah. Alhasil, keluhan itu menimbulkan ‘belas kasihan’ pihak sekretariat untuk melakukan perbaikan dengan anggaran miliaranyang, kabarnya, cukup bagi penyediaan dua ratusan jamban.

Belum lagi berita soal jamban itu reda, tersiar kabar perbaikan ruang rapat yang pagu anggarannya pun tak tanggung-tanggung: puluhan miliar. Maka, tudingan kritis soal kucuran-kucuran dana perbaikan ajaib itu segera mengalir dari segala penjuru. Pasalnya, rakyat kerap mendengar dengkur anggota DPR ketika rapat berlangsung di ruang mewah itu. Belum lagi kursi-kursi tak bertuan karena pemiliknyayang wakil rakyat ituentah sedang berada di mana tatkala sidang sedang berlangsung. Tak heran jika banyak orang mempertanyakan manfaat permewahan ruang rapat itu.

Masih dalam lagu yang sama, Iwan Fals berpesan, Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Kata tidur dalam lagu ini bisa bermakna ganda. Makna pertama terkait dengan tidur yang benar-benar tidur. Sedangkan makna kedua bisa saja lalai, lupa, atau tidak mau tahu perasaan rakyat yang diwakili.

Tidur yang pertama masih bisa diterima karena tubuh letih dan beban pikiran bisa memungkinkan hal itu terjadi. Apalagi bila suasana ruang rapat mendukung serangan kantuk itu, bisa benar-benar pulas. Namun makna yang kedua berhubungan dengan pengkhianatan terhadap para pemilih, dalam hal ini rakyat yang diwakili.

***

Lalu, saya buka lagi kenangan-kenangan 2009. Tak lama berselang seusai Pemilu, banyak caleg diserang penyakit sekonyong-konyong, seperti sekonyong-konyong depresi, stres, bahkan gila. Hanya segelintir saja yang bisa berlapang dada menghadapi kegagalan, lebih banyak yang tak siap menerima kenyataan. Ada yang tak berani lagi berbaur dengan rakyat sekampung karena beban malu tak terperi, ada yang harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa, ada yang harus berurusan dengan orang pintar. Ada juga yang marah-marah dan menagih segala yang telah dikorbankan, semisal Posyandu yang dibongkar paksa karena sang caleg gagal melenggang ke Senayan.

Dari kenangan itu benak saya beralih ke Senayan. Jelaslah mereka yang sekarang duduk manis di sana adalah orang-orang pilihandan tentu saja dipilih rakyat karena siluman tidak ikut Pemiluyang seharusnya menjalankan amanat rakyat dengan sebagaimana mestinya. Atau, kalau bisa, dengan sebaik-baiknya. Paling tidak, menurut Iwan Fals, jangan hanya tahu nyanyian lagu setuju.

Sebagai kaum pilihan, anggota DPR tak perlu merasa cemas atau ketakutan ketika didatangi orang-orang yang mereka wakili. Kalau perlu, ajak mereka masuk ke dalam ruang rapat mewah itu untuk menyampaikan pikiran dan perasaan mereka. Uniknya, saat rakyat berbondong-bondong ke Senayan, yang menemui rakyat biasanya polisi dengan pentungan karet, gas air mata, bom asap, atau peluru karet. Aneh bin ajaib, di negeri ini orang-orang takut pada pemilih yang mereka wakili.

***

Apa pun kenyataan yang terjadi saat ini, tanpa sengaja anggota DPR telah memberikan pendidikan politik, meskipun harus dibayar mahal oleh rakyat. Pendidikan itu mencakup makin terangnya siapa yang layak pilih dan siapa yang sebenarnya tidak layak pilih. Atau, siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang harus dilupakan. Ya, berkat rentetan tersingkapnya kedok sebagiansekali lagi, sebagian anggota DPR, rakyat mulai waspada agar tidak salah pilih pada pemilu berikutnya.Bagaimanapun juga, rakyat harus berterima kasih kepada anggota DPR sekarang karena telah diingatkan bahwa kesalahan satu hari saat memilih harus dibayar bertahun-tahun.

Sebaliknya, anggota DPR juga tak harus mencak-mencak karena dituding oleh rakyat telah menggunakan aji mumpung atau mantra mentang-mentang.Masih ada waktu dua tahun untuk berbenah agar bisa memenuhi harapan para pemilih: menjadi wakil rakyat yang memang merakyat. []

@1bichara, Januari 2012

Tags: , , , , ,

 
9

Gus Dur, Pak Hoegeng, dan Polisi Tidur

Posted by dusunkata on Jan 12, 2012 in Esai

Suatu ketika Gus Dur berkelakar. Hanya tiga polisi yang jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Pak Hoegeng, katanya. Ini bukan sekadar kelakar, bukan juga sindiran samar soal kinerja kepolisian yang memprihatinkan. Ini adalah ajakan agar kepolisian berlapang dada menerima kritikan dan segera berkemas membenahi institusi. Atau, ya, semacam alegori agar para polisi menyadari bahwa tugas mengayomi dan melindungi itu bukan perkara mudah.

Itulah musabab mengapa tagar #matahukum saya lansir lewat akun twitter. Sebagai tombak terdepan, anggota kepolisian diharapkan menjadi perintis terciptanya rasa adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Artinya, polisilah yang harus berdiri paling depan dalam upaya menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata seluruh di sini berarti tanpa pilih kasihsiapa pun rakyat Indonesia berhak atas keadilan, baik yang kaya maupun yang miskin.

Dewasa ini, citra kepolisian sedang berada pada titik terendah. Kita kehilangan figur polisi idaman Gus Duryang sekaligus idaman rakyat Indonesiaseperti pada sosok Pak Hoegeng. Anggota polisi yang jujur pun semakin langka, kendati bukan berarti tak ada. Maka, tak heran jika semisal pelanggaran lalu lintas selalu dianggap remeh, cukup dengan seloroh, Ada uang tilang pun batal.

Lewat tagar #matahukum itu ada akun yang secara berkelakar mengatakan bahwa polisi sekarang terlihat gahar, galak, dan sangar: lebih militer daripada tentara. Ada juga yang mengeluhkan alur sandiwara jalur Transjakarta, tatkala polisi menggiring pengendara sepeda motor ke dalam jalur khusus bus besar lantas pada ujung jalan polisi lainnya sudah siap memangsa mereka. Bahkan, ada yang bertutur tentang pengalamannya meminta ditilang, tapi polisi berkeras agar atur damai saja. Atau, karena sedang tidak bawa uang malah diminta polisi untuk mengambil uang di ATM terdekat. Nah!

Kisah-kisah itu membuktikan betapa sebenarnya banyak orang yang merindukan polisi benar-benar sebagai pengayom dan pelindung. Betapa pun pedasnya, kritik bisa menjadi alternatif perenungan. Bukankah sesekali kita perlu menyingkap segala kekurangan agar kita bisa berkemas membenahinya?

***

Pertanyaan pertama yang secara serius saya ajukan lewat #matahukum adalah: Bisakah polisi terlepas dari kebiasaan menerima suap, komisi, atau upeti?

Jawaban lugas muncul dari akun @kikikuik. Harusnya bisa. Seperti prinsip ini: membiasakan yang benar, dan bukan membenarkan yang biasa, kicaunya. Kalimat ini tajam, tapi patut direnungkan. Sederhananya, seperti rahasia yang telah tersingkap begitu benderang, seseorang bisa menjadi anggota kepolisian karena menyediakan setumpuk rupiah. Bukan soal berapa setoran awal yang disorongkan, melainkan karena upeti itulah yang kelak memaksa anggota kepolisian berusaha keras kejar setoran. Maka, di sinilah pentingnya mengubah sistem terselubungpraktik duitpada masa awal menjadi anggota kepolisian.

Selain itu, @penyairunyu menyarankan agar calon anggota kepolisian menata impian atau harapannya. Katanya, kalau ingin mengejar harta kekayaan, kepolisian bukan jalan yang tepat. Sebaiknya jadi pengusaha, katanya lagi.

Pertanyaan kedua adalah: Anda punya saran menyelamatkan Kepolisian Republik Indonesia?

Dan, jawaban pun mengalir deras. Ya, upaya peningkatan kinerja polisi juga menjadi tanggung jawab masyarakat. Misalnya, jangan coba-coba mengemudi jika tidak benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi pengemudi. Atau, tatkala mengurus SIM tak perlu mencoba-coba pintu belakang atau jasa calo. Atau, ketika melaporkan dompet hilang tak perlu kelimpungan membayar uang jasa karena polisi digaji termasuk untuk memberikan Surat Keterangan Kehilangan. Kalaupun ternyata polisi menangkap basah pelanggaran kita, usahakan tidak menyelesaikan perkara lewat rupiah, sebagaimana saran @susyillona. Apalagi menyodorkan kartu anggota kewartawanan atau ketentaraan.

Kita semua pasti pernah mendengar pepatah yang menandaskan bahwa ala bisa karena biasa.

Coba turun ke jalan dan temukan betapa banyak pelanggaran yang terjadi: lampu merah yang diterabas, saling kebut-saling salip, berhenti di tengah jalan atau ngetem di sembarang tempat, membuang sampah secara serampangan lewat jendela yang setengah terbuka, mengemudikan sepeda motor dengan ugal-ugalan, dan banyak pelanggaran lain yang cukup panjang jika dituliskan satu demi satu. Sebagai rakyat yang taat, tak perlu berkilah bahwa peraturan diterapkan memang untuk dilanggar. Lazimnya, satu pelanggaran akan melahirkan pelanggaran kedua, ketiga, dan seterusnya.

Jadi, mari kita mulai dari diri sendiri.

***

Sekecil apa pun peluang perbaikan, harapan selalu ada. Termasuk harapan agar polisi benar-benar menjadi seperti dambaan masyarakat. Cukuplah romansa sandal jepit, biji kakao, setandan pisang, celana dalam, atau bawang merah mengisi riwayat panjang ketidak-adilan di negeri kita. Cukuplah tragedi pemukulan berujung maut, mabuk-mabukan dan tiba-tiba jadi malaikat pencabut nyawa, atau penembakan terhadap rakyat dengan membabi-buta menghiasi potret buram kepolisian kita.

Bahwa tindak kejahatan seberapa pun remehnya harus diselesaikan, itu benar. Bahwa bukan besar atau kecilnya suatu kejahatan sehingga diperkarakan, itu juga benar. Akan tetapi, pelanggaran kecil seharga Rp 2.000,- tentu tak masuk akal jika diancam pidana sama seperti kasus penggerogotan uang negara sebesar Rp 20.000.000.000. Ditambah lagi kisah penyiksaan semasa pemeriksaan yang dialami oleh pelaku rakyat kecil. Pada titik inilah rakyat mendambakan keadilan. Apabila ada pihak pelapor yang kemudian memilih jalur kekeluargaan untuk menyelesaikan tindak pidana ringan, polisi tidak harusngotot meneruskan perkara.

Akhirnya, seperti hasrat Gus Dur, selalu ada cara untuk melahirkan Hoegeng-Hoegeng baru. Jika tidak, mustahil semua anggota kepolisian disihir menjadi polisi tidur atau patung polisi demi menemukan sosok polisi yang jujur. []

@1bichara, Januari 2012

Tags: , , , ,

 
8

Perseteruan Murid Zen

Posted by dusunkata on Jan 11, 2012 in Esai

Terkisahkan dalam banyak riwayat, dua orang murid Sang Guru Zen sedang melakukan perjalanan dalam rangka mempraktikkan ajaran yang telah mereka terima dari Sang Guru Zen. Murid Kesatu berbadan kecil berkulit kekuning-kuninganan. Murid Kedua berbadan tinggi tegap berkulit agak kecokelatan. Murid Kesatu suaranya sangat lembut, bila bicara seolah seluruh isi alam takzim mendengarnya. Murid Kedua suaranya keras penuh wibawa, bila berbicara seolah seluruh isi alam patuh menyimaknya. Sepanjang perjalanan mereka bahu-membahu, tolong-menolong, dan saling ingat-mengingatkan.

Setelah berbulan-bulan melaksanakan amanat, mereka berencana pulang ke tempat pertapaan Sang Guru Zen untuk melaporkan segala bakti yang telah mereka kerjakan. Tentulah bukan perjalanan yang mudah dan menyenangkan, tapi kegembiraan bakal bertemu guru tercinta begitu meruah dalam dada. Gunung dan lembah mereka lalui dengan riang. Hutan gelap mereka lewati begitu gembira.

Hingga mereka tiba di sebuah desa yang baru saja dilanda bencana banjir. Rumah-rumah dan pohon-pohon bertumbangan. Mayat-mayat bergelimpangan. Air yang mulai surut setinggi mata kaki penuh lumpur. Kedua murid Sang Guru Zen itu tidak surut. Mereka terus melangkah, meski kaki berat diayunkan.

Lalu mereka mendengar teriakan, suara seseorang yang sedang meminta pertolongan. Meskipun pandangan keduanya terhalang, suara itu terdengar walau agak lamat. Mereka pun bergegas, dan terkesiap melihat seorang gadis, dengan pakaian penuh noda lumpur tersingkap di beberapa bagian, berdiri dengan muka pucat pasi.

Ajaib, masih ada korban yang selamat, kata Murid Kesatu sambil mengucek-ucek mata seolah tak percaya.

Ah, mustahil. Pasti halusinasi, sergah Murid Kedua.

Murid Kesatu tersenyum lembut. Apa pun namanya, kita tetap harus menolong gadis itu.

Tapi. Tunggu dulu! Bagaimana kita akan menolong dia? Lihat, pakaian gadis itu acak-acakan, membangkitkan birahi. Itu melanggar ajaran guru. Lagi pula, tidak mungkin kita menggendong atau membopong tubuh gadis itu. Mustahil. Kata Murid Kedua dengan suara yang pelan tapi penuh wibawa.

Tak perlu kita bopong tubuhnya sepanjang perjalanan. Cukup hingga ke kaki bukit itu. Ingat, di balik bukit ada perkampungan. Kita tinggal mengabarkan kepada penduduk kampung, di desa sebelah ada korban banjir yang masih selamat. Mudah, kan? jawab Murid Kesatu dengan lembut.

Wajah Murid Kedua memerah. Tidak. Aku tidak mau melanggar ajaran Guru. Selama ini kita berjuang mati-matian mengamalkan segala perintah dan menjauhi semua larangan. Lantas karena seorang gadis semuanya jadi tak berarti? Tidak mungkin.

Murid Kesatu pun melangkah ke arah Sang Gadis. Menyapa dengan lembut, menenangkan hatinya, lalu meminta maaf karena harus menggendongnya. Sang Gadis pun mengiya dan segera bergelayut ke tubuh Murid Kesatu. Murid Kedua memejamkan mata, mulutnya komat-kamit memohonkan ampun bagi kesalahan saudara seperguruannya. Setelah susah payah melewati kubangan lumpur sepanjang sekitar 70 meter, mereka pun tiba di kaki bukit. Segera saja Sang Gadis turun dari gendongan, sinar matanya menyiratkan ucapan terima kasih yang sangat tulus. Murid Kesatu dan Murid Kedua pun melanjutkan perjalanan. Hingga mereka tiba di perkampungan di balik bukit. Lantas menyampaikan kepada penduduk kampung ihwal gadis yang mereka selamatkan, lalu mereka teruskan perjalanan. Karena hari mulai gelap, mereka sepakat untuk istirahat.

Bertobatlah, Saudaraku, karena kamu telah melakukan perbuatan maksiat! Kata Murid Kedua.

Aku cuma menggendong gadis itu sepanjang 70 meter, kamu menggendongnya dalam pikiranmu sepanjang 7 kilometer. Siapa yang mestinya bertobat? tanya Murid Kesatu.

***

Kerap kali ajaran agama yang kita yakini kita maknai seadanya saja. Ada banyak nilai tersirat yang belum kita singkap. Sebutlah seperti pendapat Murid Kedua di atas. Benar bahwa mereka harus taat pada ajaran Sang Guru yang mereka yakini kebenarannya. Akan tetapi, tidak berarti apa yang dilakukan oleh Murid Kesatumenolong Sang Gadisbenar-benar salah. Ia memaknai ajaran Sang Guru dengan kemampuan merangkul dan menghayati ajaran itu hingga ke tataran penafsiran dan pengamalan yang lebih membumi.

Kisah di atas tamsil belaka. Sebut saja betapa banyak anak-anak yang terpaksa turun ke jalan karena paksaan keadaan, lalu menadahkan tangan berharap belas kasihan dari para pengguna jalan. Bagi sebagian orang, larangan memberikan sedekah seperti yang dimaklumatkan pemerintah di beberapa kota adalah sesuatu yang jelasseperti larangan melihat aurat perempuan dan berdekatan dengan perempuan bagi Murid Keduadan harus diterapkan. Belum lagi bila dikait-hubungkan dengan asumsi bahwa gerombolan pengemis itu sebenarnya profesi samar yang terorganisir. Maka, sedekah menjadi sesuatu yang tabu, bahkan tidak boleh. Apalagi bila kita meyakini bahwa tugas memelihara, melindungi, dan “mengasuh” orang miskin dan anak terlantar adalah kewajiban negara.

Makin kompleks, kan?

Dalam tataran kebijakan, sekadar menyebut contoh, tilik pula SKB Menteri tentang pembangunan rumah peribadatan yang terus memicu konflik antarumat beragama. Bagi umat yang fanatik akan menjadikan SKB itu sebagai senjata untuk melarang agama lain menjalankan ritual ibadat, bahkan kerap pula disertai dengan tindak kekerasanyang sebenarnya tidak pernah dianjurkan oleh agamaatas nama agama dan menggunakan simbol-simbol agama. Sementara, Pemerintah tidak bersegera mencari solusi terbaik, semisal mengeja dan membaca ulang SKB itu.

Bahkan ada pejabat negara yang berani melawan keputusan yang lebih tinggi untuk membatalkan perizinan sebuah rumah ibadat. Pembatalan itu kontan memicu terbelahnya umat. Ancaman kekerasan pun tak terhindarkan, konflik antarwarga menjadi bahaya laten yang terus mengancam, dan umat beragama itu pun terhambat dalam memenuhi hajat beribadah sesuai ajaran agama yang diyakininya. Lalu, di mana peran negara?

Sungguh, ada banyak hal yang seyogianya butuh permenungan kita.

***

Kembali ke muasal perdebatan murid Sang Guru Zen di atas, tentulah banyak hikmah yang bisa kita petik. Selama ini kita seringkadang-kadang sangat seringberburuk sangka, menduga sesuatu yang belum tentu pasti, atau pikiran negatif yang belum tentu absah kebenarannya. Kita lebih suka memilih mendiamkan suatu masalah daripada berusaha mencari kebenarannya. Kita pun kerap mengambil keputusan sendiri, sebelum bersikeras mencari hakikat dan kejelasan masalah itu. Keberanian Murid Kedua untuk mempertanyakan penyimpangan yang dilakukan oleh Murid Kesatu, sejatinya, adalah ajakan bagi kita untuk belajar berterus-terang, belajar lebih terbuka, dan belajar menerima perbedaan.

Kisah di atas bukanlah pencarian siapa yang benar atau siapa yang salah. Bukan pula pemastian siapa yang lebih berbakti atau siapa yang sudah menyimpang. Kisah di atas hanyalah cermin bagi kita dalam hidup kekinian yang semakin rumit. []

@1bichara, Januari 2011

Tags: , ,

 
41

Marissa, Etika Sang Pesohor

Posted by dusunkata on Jan 10, 2012 in Esai

Aku bersyukur bisa mengenal dunia blog. Seolah tukang sihir, aku bisa menumpahkan apa saja yang kurasakan dan kata-kata seketika menjadi mantra sakti yang melegakan dan membahagiakan. Sesekali aku berjalan mengunjungi blog orang lain, layaknya peziarah yang berkunjung ke tanah mana saja yang dia inginkan. Sesekali pula kutinggalkan jejak berupa komentar di blog yang telah kusinggahi, sekadar memberi tahu bahwa aku telah berkunjung dan mencicipi jamuan yang disajikan di blog itu.

Blog adalah dunia yang indah, dunia penuh warna. Dan, apa yang semula cuma iseng-iseng mengisi waktu, kini menghadirkan kesenangan yang, alangkah, membahagiakan. Kebahagiaan itu jadi gelenyar indah yang, seringkali, tak kutemukan di tempat mana pun dalam kehidupan yang penuh basa-basi ini. Lalu menjalarlah rasa hangat, seolah berkata Ayo! atau Lagi! dan aku tak ingin berhenti lagi.

Di dunia ini pula aku bertemu dengan banyak orang. Pertemuan yang terjalin lewat kata-kata itu sesekali menyenangkan, sesekali menjengkelkan. Yang menyenangkan itu menghadirkan inspirasi tak tepermanai lewat tulisan yang ciamik dan menggugah. Yang menjengkelkan itu kerap menularkan energi negatif lewat tulisan yang menguarkan kebencian dan samar amarah.

Begitulah, dunia memang lebih indah jikalau banyak warna.

***

Tibalah aku di sebuah blog seorang pesohor. Dulu, selain piawai di dunia model dan film, pesohor ini juga aktif dalam dunia politik. Bahkan sempat maju sebagai calon pemimpin di salah satu provinsi di negeri tercinta ini. Marissa Haque, namanya. Nama blog-nya tak kalah keren, Fastabiqul Khairat. Lumrahnya setiap tualang lain, pastilah ada hal menarik yang membuat hatiku kepincut menyambangi blog pesohor itu. Nah, awalnya bermula dari tagar yang sedang marak di Twitter: #kamseupay.

Kesan pertama begitu tiba? Jujur, biasa saja. Blog pesohor ini kurang menarik, baik dari suguhan tulisan maupun racikan bahasanya. Tak ada yang istimewa, bahkan banyak blog lain yang lebih bermutu. Kurang percaya? Silakan tanya alamat blog sang pesohor kepada Abah Google dan kunjungi tautannya. Akan tetapi, sebaiknya Anda berhati-hati atau mempersiapkan hati atau malah tak memakai hati ketika membacanya. Soalnya banyak hujatan, makian, dan umpatan. Selebihnya, kampanye tentang diri sendirisemisal gelar akademik dan prestasi berlatar fisikyang sebenarnya informasi seperti itu bisa kita dapatkan di tempat lain.

Alhasil, aku pulang tanpa sesuatu yang bisa mengetuk hati untuk kapan-kapan datang lagi, seperti ketika aku sambangi blog pesohor lain yang sering menyihir rinduku.

Ternyata aku salah kira. Hanya berselang sehari aku terseret gelombang penasaran untuk bertamu lagi ke blog yang dijuduli dengan mentereng itu. Penasaran akut itu dipicu oleh keinginan mencari kebenaran atas informasi rekan blogger lain yang telah dipermak komentarnya. Mereka adalah @harrismaul, @nonadita, dan @rudigints. Ini kasus menggelikan sekaligus menggilakan bagiku, karena belum pernah sebelumnya menemukan kasus ada komentar yang diubah secara licik untuk memenuhi ambisi sang pemilik blog.

Lalu, kukunjungi blog @nonadita yang melakukan klarifikasi atas komentarnya yang diubah di blog sang pesohor itu (bisa disimak di http://bit.ly/wdwKnO), dan klarifikasi@harrismaul lewat http://alturl.com/63smr yang tak kalah menarik. Supaya lebih utuh, aku datangi pula blog @rudigints tentang klarifikasi pengubahan komentarnya di http://rudigints.blogdetik.com/2012/01/0…

Sungguh, aku kaget. Tak terlintas di benakku seorang pesohor bisa melakukan tindakan naifmalah, licikseperti itu. Jelas saja aku menuntut klarifikasi kepada sang pesohor melalui akun twitter-nya. Kebetulan istri penyanyi rok ternama itu sudah meng-follow akun twitter-ku, @1bichara. Bagiku, tindakan pengubahan komentar adalah kejahatan intelektual yang tak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi. Selain bisa menimbulkan preseden buruk bagi dunia blog, juga berpotensi melahirkan fitnah dan pencemaran nama baik. Kalau memang pemilik blog tak menyukai komentar itu, pilihan yang lebih bijak dengan menolak komentar, bukan mengubahnya. Sederhana, bukan?

Uniknya, bukan klarifikasi yang kudapatkan, melainkan ajakan agar aku lebih fokus pada kasus yang sedang beliau hadapi. Kaget bukan kepalang membaca jawaban tak bernas seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang meminta klrafikasi atas suatu kejanggalan malah dialihkan untuk bersama-sama menghadapi masalahnya? Jawaban lewat mention itu ternyata memancing keributan baru. Banyak pihak, terutama belasan blogger, tidak bisa menerima jawaban sederhana seperti itu.

Akibatnya bisa ditebak, akun sang pesohor kebanjiran mention. Lebih fatal lagi, sang pesohor tidak segera menjawab kegelisahan itu dan malah menghapus semua komentar yang ada di blog-nya hingga nyaris tak bersisa.

Bolehlah disebut ini cara kamseupay untuk menghapus jejak atau mengalihkan perhatian.

***

Apakah blog Fastabiqul Khairat milik Yang Mulia Marissa Haque itu dikelola sendiri atau dikelola oleh orang lain?

Inilah pertanyaan pertama yang melintas di benakku. Apa pun itu, baik oleh orang lain atau sang pesohor sendiri, pengubahan komentar untuk sesuatu yang berbau fitnah bukan sesuatu yang beretika. Menghapus seluruh komentar yang diubah itu tanpa klarifikasi kepada pihak yang dirugikan adalah tindakan yang lebih tak beretika.

Sebagai pemilik blog, tentulah Ibu Marissa Haque bertanggung jawab atas kecerobohan itu. Masalahnya, seberapa peka nurani sang pesohor untuk meminta maaf atau seberapa bernyali beliau untuk memberikan klarifikasi? Entahlah….

Bagiku, blog tetap dunia nyata yang menuntut kesopanan dan kesantunan. Dan aku takkan berhenti bertualang di dunia blog karena kasus seperti ini. Jadi, ya, menunggu lagi. Menunggu hati sang pesohor terketuk untuk memberikan klarifikasi dan jawaban, setidaknya demi ketokohan dan ketenaran dirinya sendiri. Semoga!

Parung, Januari 2012

Tags: , , , ,

 
7

Tokoh-Tokoh dari Dukuh Paruk

Posted by dusunkata on Des 26, 2011 in Resensi Buku
Ronggeng Dukuh Paruk
Ronggeng Dukuh Paruk
Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VII, November 2011
Tebal: 408 halaman

Mulai hari dengan membaca. Begitu prinsip hidup yang saya yakini. Kadang ketika tak ada lagi buku baru yang bisa dibaca, buku-buku lamayang beberapa di antaranya sudah saya baca berkali-kalisaya baca lagi karena memang menarik dan berbekas di pedalaman rasa.

Salah satu buku yang berkali-kali saya baca adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel apik karya Ahmad Tohari ini seperti kekasih yang kerap saya rindui: meminta dibaca berkali-kali, ditelaah lalu diselamisedalam-dalamnyadan, sungguh, rasanya saya tak pernah bosan. Dongeng yang dimulakan dari kematian berantai akibat tempe bongkrek buatan Santayibayah sang ronggeng ternama, Srintilkemudian mengalir dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang mencekam, mengentak, dan memiuh-miuh hati.

Tetapi tulisan ringan ini tak hendak meringkas atau mengisahkan ulang sari cerita yang penuh pukau dan dipuji banyak pengamat. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk membabar kajian etnis, kesejarahan, psikoanalisis, atau formalismelayaknya orang-orang yang mendalami sastra pada awal abad ke-20 menyatakan sastra itu unik dari bentuk dan bukan dari kandungan maknanya.

Tulisan ini saya niatkan sebagai catatan ringan soal bagaimana penulis menciptakan tokoh-tokoh yang sungguh-sungguh bernyawa.

Saya menyukai pendapat Orson Scott Card dalam bukunya, Characters and Viewpoint (Writer’s Digest Book, Ohio, 1999), berkaitan dengan tokoh dan penokohan. Menurut Orson, ada tiga hal yang membuat tokoh dalam sebuah cerita bisa memikat pembaca, yakni kepercayaan, keterlibatan emosional, dan kemudahan dipahami. Setiap membaca novel, hal pertama yang kerap saya lakukan adalah bertanya apakah tokoh maya itu berterima atau tidak oleh benak saya. Lalu, seberapa kuat tokoh rekaan itu membetot emosi saya. Biasanya akan saya akhiri rasa penasaran dengan menakar seberapa mudah tokoh itu saya pahami.

Sikap pembacaan saya itu tentu bukanlah cara terbaik mendedah tokoh dan penokohan, karena setiap orang pasti memiliki sikap sendiri dalam menggauli tokoh-tokoh cerita yang dibacanya, yang mungkin jauh lebih baik dari persikapan saya. Apa pun sikap itu, menyitir Sartre, pilihan itu harus diberi penilaian khas bernama tanggung jawab.Berlatar pilihan sikap dan saran Orson itu, akan saya tuturkan pendapat ihwal tokoh-tokoh ciptaan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk.

Pertama, Rasus. Tidak seperti yatim-piatu lain di Dukuh Paruk yang kematian orangtua mereka begitu benderang, Rasus mendapat kabar serba terbatas tentang nasib Emak yang telah melahirkannya. Dari sinilah Ahmad Tohari membangun tokoh Rasus, bukan dari citraan fisik semata, melainkan dari sisi psikologis yang mencengkam. Lalu, Rasus tumbuh menjadi tokoh yang kelimpungan mencari bentuk fisik ibunyabeberapa kali ia bayangkan seperti Srintil dan kemudian akhirnya ia bantah sendiri. Karakter Rasus pun terbentuk dari keserbaraguan, terlihat pada ritual bukak-klambu, semasa menjenguk Srintil di penjara, percakapan dengan Sakum yang memintanya mengawini Srintil, dan ketika ia pulang ke tanah air-nya mendapati kenyataan Srintil masih menerima tamu.

Kedua, Srintil. Barangkali, inilah tokoh yang banyak menduduki hati tokoh lain dalam cerita atau, barangkali, hati pembaca. Ahmad Tohari membentuk karakter Srintil dengan saksama, penuh perinci, dan menggigit. Selain piawai menggambarkan fisik Srintil lewat narasi-narasi yang mudah dipahami, Ahmad Tohari juga jago menata karakter non-fisik tokoh ronggeng ini, seperti tergambar dalam peristiwa kerasukan Kartareja, depresi menjelang bukak-klambu, hasrat mengasuh Goder (bayi sahabatnya, Tami), gairah alamiah ketika Rasus pulang, kekukuhannya menghadapi godaan Marsusi, jerit ketakberdayaan memenuhi permintaan Sentika untuk menjadi gowok, dan memuncak pada hilangnya ingatan Srintil ketika mengetahui muslihat Bajus.

Ketiga, Nyai Kartareja. Tokoh dukun ronggeng yang dicitrakan Ahmad Tohari sebagai majikan terselubung yang banyak memetik keuntungan dari ketenarang Srintil. Setiap membaca halaman yang memuat tokoh ini,benak saya langsung memampang tokoh-tokoh serupa di dunia kekiniantokoh-tokoh yang bermain di belakang layar tapi meraup lebih banyak keuntungandi negeri tercinta ini. Saya menyukai cara Ahmad Tohari mendaras tokoh yang satu ini, terutama ketika terlibat masalah dan dengan penuh tipu-daya berkelit dari masalah itu.

Keempat, Sakarya. Dikisahkan bahwa orang tertua di Dukuh Paruk ini adalah pemangku tradisi turun-temurun yang dipercaya leluhur menjaga dan melestarikan ciri khas Dukuh Paruk. Ketika dibenturkan dengan ideologi revolusi yang kerap dikumandangkan oleh Bakar, Sakarya tetap bersikukuh menjaga kemurnian tradisi peronggengan. Tetapi nasib berkehendak lain ketika peristiwa revolusi itu benar-benar meledak. Sakarya tak bisa mengelak dari tudingan yang tak pernah iadan warga Dukuh Paruk lainnyabayangkan sebelumnya. Lebih mengenaskan lagi tatkala tanah air yang dijaganya sepenuh hati itu habis dilalap api tanpa mengetahui siapa-siapa pelakunya.

Kelima, Sakum. Inilah tokoh yang diciptakan Ahmad Tohari sebagai cermin masyarakat lapis bawah: beranak banyak, tak punya penghasilan tetap, dan hidup serba kekurangan. Dengan gaya narasi yang khas Ahmad Tohari menggambarkan kemiskinan Sakum, seperti warga Dukuh Paruk lainnya, lengkap dengan keistimewaan sebagai penabuh calung yang paling disegani. Gambaran ini laksana telaga jernih yang memantulkan bayangan keminskinan penduduk, terutama pelaku seni, di negeri ini.

Keenam, Marsusi. Ahmad Tohari memotret tingkah orang kaya yang berkuasa lewat tokoh ini. Dikisahkan, Marsusi begitu berambisi memiliki Srintil, namun tak berdaya melawan kekukuhan hati ronggeng pujaan itu. Alhasil, langkah nyeleneh pun ia tempuh dengan memasang perangkap guna-guna untuk mempermalukan Srintil. Tetapi, karakter Marsusi ini juga punya sisi baik, termasuk menyuap penguasa lain agar muslihatnya berjalan lebih mudah.

Ketujuh, Bajus. Duh! Tokoh begajul ini menjadi musuh sempurna bagi pembaca. Di balik santun laku dan budi bahasanya, Bajus menyimpan jebakan yang, kelak, sangat menentukan akhir cerita. Dari sisi penokohan, saya mengagumi kejelian Ahmad Tohari dalam menciptakan tokoh ini: tak terbaca, tak terduga.

Masih banyak lagi tokoh lain yang tak kalah menarik, terutama dalam proses ciptaan, di dalam novel ini. Pertanyaan yang kerap menghantui benak saya: dari mana datangnya tokoh-tokoh ini? Ahmad Tohari telah menyajikan tokoh siapa yang harus ada dan bagaimana cara menciptakan tokoh itu. Lalu, siapa yang mungkin ada dan seberapa besar porsi tokoh yang mungkin ada itu. Selain itu, Ahmad Tohari juga menampilkan teknik menamai tokoh, mengembangkan karakter tokoh agar penokohan itu berhasil. Dan, hierarki antartokoh juga sangat jelas, sehingga terang antara peran tokoh utama dan tokoh pendamping. Dalam hal ini, tokoh-tokoh yang disajikan Ahmad Tohari tidak sekadar pengutuh cerita, tapi sekaligus sebagai tanda dan pertanda.

Maka, layaklah buku ini saya anjurkan untuk dibaca oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang berhasrat menulis novel. Novel ini, sungguh, menyuguhkan bagaimana semestinya kita menciptakan tokoh imajinatif.

Akan tetapi, jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar, buku ini harus rampung dibaca.

Parung, Desember 2011
@1bichara

Tags: , ,

 
16

Hujan, Tuhan, dan Gumam-gumam Tak Beraturan

Posted by dusunkata on Nop 28, 2011 in Puisi

1.
Hujan yang kaurindukan adalah keheningan
yang kutakutkan. Padanya, duka seringkali
mengeram lebih lama.

Hanya hujan, yang tumpah sesekali,
mempertemukan aku dengan bayangmu,
di senyap ingatan.

Di luar, hujan mulai reda. Di hatiku,
rindu menggerimis.

2.
Aku menyukai rindu, karena ia bisa kapan saja,
melesapkan kamu ke jantung anganku.

Seperti burung, rinduku tak pernah murung,
selalu tahu cara berbahagia, setiap senja tiba.

Seperti dugaanmu, rindu adalah gerimis
yang melebat tiba-tiba, sebelum akhirnya
ia pulas di pipiku.

Rinduku linang sepi, benciku lengang pinta.
Tumbuh-tegang di hatiku, sama-sama
menginginkan kehadiranmu.

Sungguh, aku memilih rindu,padanya luka dan cinta menyatu.

3.
Kita sepakat meninggalkan masa silam,
tapi kita suka diam-diam mengunjunginya.
Lewat hujan, lewat ingatan.

Kesedihan, yang kita biarkan berumah di mata,
adalah sekulum senyum yang disembunyikan jarak,
dan pelukan.

Sesungguhnya, kita adalah sepasang telinga.
Yang berjauhan, yang bersilangan.

4.
Jika Tuhanmu bisa mengabulkan harapan,
bisakah kau kenalkan Ia kepadaku?

Parung, November 2011

Tags: , , ,

 
6

Suporter Garuda Muda dan Mimpi Juara

Posted by dusunkata on Nop 21, 2011 in Esai

Kemenangan dalam sebuah pertandingan final bukan sekadar harapan. Kemenangan adalah peristiwa bersejarah yang akan menempatkan pemain dan pelatih ke dalam posisi yang menyenangkan.

Sepanjang perhelatan Sea Games 2011, Garuda Muda sudah merasakan kemenangan demi kemenangan. Satu-satunya kekalahanyang tampaknya sengaja dilepas pelatih RDadalah ketika timnas kita takluk pada laga terakhir. Malaysia, yang mengalahkan timnas kita itu, akhirnya bertemu kembali di babak final.

Tentu saja, RD juga mengharapkan kemenangan di pertandingan final ini. Dua puluh tahun kehilangan medali emas adalah penantian yang lama. Sangat lama. Tahun 1997, timnas kita nyaris meraihnya, hingga Thailand menguburkan impian emas itu. Tahun ini kita sudah berada di ujung pertaruhan, babak final. Dan, Malaysia tentulah bukan lawan yang mudah. Mereka juga berambisi mempertahankan gelar: medali emas.

Kemenangan dan kekalahan adalah dua hal yang tidak dapat saling dibandingkan. Itu nasihat novelis ternama, Boris Pasternak. Banyak orang yang siap menang, tapi tidak banyak yang siap kalah. Di luar sepak bola pun tak jauh beda. Peserta Pemilukada, misalnya, lebih banyak yang bersiap merayakan kemenangan daripada yang berlapang dada menerima kekalahan.

Ketika timnas kita kalah pada babak penyisihan grup, RD mampu menjaga suasana hati pemain. Tak ada yang terpuruk, tak ada yang tersungkur. Kerja keras dan daya juang tinggi saat menundukkan Vietnam adalah bukti pemain bisa melupakan kekalahan dari Malaysia.Dengan demikian, pertaruhan di babak final bukan sekadar balas dendam atau ganyang-mengganyang. Garuda Muda sedang meracik obat yang semoga mustajab menyembuhkan kerinduan pendukungnya: medali emas.

Akan tetapi, bukan pemain dan pelatih Garuda Muda satu-satunya pihak yang harus siap menghadapi laga pamungkas ini. Suporter juga harus melakukan hal yang sama. Memberi semangat sepanjang laga, misalnya. Jangan sampai terulang hanya karena timnas kita tertinggal, koor berubah menjadi huh panjang setiap pemain kita menggiring bola. Apalagi jika berdiri dari bangku penonton dan meninggalkan stadion dengan muka kecewa.

Belum lagi kebiasaan berbahaya semisal melempar botol air kemasan atau menyalakan petasan. Atau, mengurung pemain lawan yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Atau, yang lebih sederhana, seperti saran @tweet_erland, mencoba diam dan menakzimi lagu kebangsaan lawan yang sedang dikumandangkan.

Memang, hubungan Indonesia dan Malaysia bukan riwayat manis dua negara tetangga. Tapi tidak berarti kita harus menanggalkan adab dan susila.

Hari ini, kalimat yang tepat bukan lagi mimpi akan menjadi kenyataan, melainkan mimpi harus menjadi kenyataan. Artinya, pemain harus memberikan segala-galanya. Semangat pantang menyerah, daya jelajah tinggi, kerja sama yang apik, keterampilan individu, atau apa saja yang Garuda Muda miliki. Sekali lagi, Malaysia bukan tim dari luar angkasa yang tak terkalahkan.

Babak final hanya menyediakan dua sisi, menang atau kalah. Istilah imbang sudah tak ada. Pendukung Garuda Muda pasti lebih menghendaki kemenangan. Bahkan, jika ada kata nyaris, pecinta Garuda Muda pasti lebih menyukai nyaris kalah ketimbang nyaris menang. Meskipun menang dengan skor meyakinkan jauh lebih menenangkan.

Jelaslah, suporter tidak ingin berandai-andai. Apalagi berandai-andai Garuda Muda kalah. Mereka bermimpi Timnas U-23 jadi juara. []

@1bichara
Tulisan ini dianggit sebelum babak final cabang sepak bola Sea Games 2011 antara Indonesia dan Malaysia.

Tags: , , , , ,

Copyright © 2012-2013 dusun kata All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.